Comments

Side Ads

Blogroll

Featured 1

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 2

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 3

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 4

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 5

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Agustus 2016

Mencapai Penguasa Laut

⚓️ Galangan Kapal Perang Indonesia Melayani Dunia Matahari pagi bersinar terang di Pelabuhan Surabaya, Jawa Timur, melukis kilauan laut dengan sangat indah, kapal perang abu-abu berlabuh di sepanjang pelabuhan besar. Salah satu sisi berdiri satu kapal besar berwarna merah, diperiksa oleh puluhan orang di seluruh permukaannya masih belum selesai.

“Ini adalah pekerjaan yang sedang berjalan, pembangunan kapal perang kedua sealift strategis vessel [SSV] yang akan dikirimkan ke Filipina,” ujar seorang pria berpakaian seragam biru langit dan topi putih mengatakannya dengan bangga.

M. Firmansyah Arifin, adalah presiden direktur galangan kapal milik negara PT. PAL Indonesia (PAL). Dia mengajak tim thejakartapost.com ke lapangan luas milik perusahaan galangan kapal PAL.

PAL memenangkan kontrak 90 juta dollar dalam tender internasional, mengalahkan delapan negara lain untuk membangun dua kapal perang Angkatan Laut Filipina pada tahun 2012. Kapal kedua, yang masih dalam pembangunan, diharapkan akan dikirimkan ke Manila bulan Mei mendatang.

Keberhasilan SSV Tarlac merupakan dorongan kepercayaan untuk industri galangan kapal negara yang berusaha untuk membuktikan dirinya di mata sendiri dan orang-orang di dunia.

Foto Proyek SSVProduksi SSV ke-2 (thejakartapost)

PT PAL telah lama mengandalkan pesanan dari pemerintah untuk kapal patroli Angkatan Laut dan feri antar pulau. Perusahaan juga telah membuat kapal-kapal tanker untuk perusahaan energi negara PT Pertamina sebagai bagian dari kerjasama antara perusahaan milik negara.

Didirikan sebagai perusahaan milik negara pada tahun 1980, PAL memiliki empat lini bisnis termasuk divisi kapal komersial, divisi kapal perang, divisi perbaikan dan pemeliharaan, serta divisi rekayasa umum. Portfolio perusahaan meliputi kapal perang, kapal patroli cepat, kapal tunda, kapal tanker, kapal nelayan, kapal research and training, kapal kargo, kapal dagang, kapal feri penumpang dan kapal pembangkit listrik.

Meskipun memiliki pengalaman yang luas, perusahaan mulai berjuang pada masalah keuangan, terutama selama krisis keuangan 1997-1998, ketika menghentikan pembuatan kapal sama sekali, hanya divisi operasi perbaikan dan pemeliharaan yang berjalan.

Momentum PAL naik, di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo ”Jokowi”, yang telah bersumpah bahwa Indonesia akan muncul sebagai kekuatan maritim, yang dituangkan dalam visinya di Nawa Cita (sembilan agenda) prinsip-prinsip pembangunan di pemilu tahun 2014. Sebagai kepulauan terbesar di dunia, negara sekarang menempatkan industri maritim dalam posisi penting.

Bagian dari visi Jokowi adalah untuk mengubah Indonesia menjadi titik tumpu maritim global, konsep ambisius dari “jalan raya maritim” yang tidak hanya mencakup transformasi dan koneksi jalur perdagangan laut negara dan port, tetapi juga penguatan kekuatan pertahanan maritim untuk melindungi wilayahnya yang luas.

“Kami ingin menjadi perusahaan galangan kapal kelas dunia. Oleh karena itu, semua upaya dan program kami dirancang untuk mengejar tujuan itu,“ kata Firmansyah, yang telah memimpin perusahaan selama empat tahun terakhir.

Februari 2012 menandai awal baru bagi PAL, pemerintah menunjuk direksi baru dan mengalokasikan Rp 150 miliar untuk merevitalisasi fasilitas produksi PAL dan memodernisasi peralatannya. Tahun itu, total dana sebesar Rp 648 miliar dari suntikan modal negara (PMN) yang disediakan untuk merubah kinerja PAL.

Sejak diresmikan pada tahun 2012, Firmansyah mengaku telah mengarahkan PAL untuk secara aktif mengejar pengetahuan dan keterampilan melalui transfer teknologi dengan perusahaan mapan dari negara maju termasuk Korea Selatan dan Belanda.

 Kecepatan Penuh 
Foto Kapal PKRPKR 10514 pertama produk bersama PT PAL (thejakartapost)

Meskipun PAL memproduksi kapal komersial dan angkatan laut, pemerintah telah menugaskan perusahaan untuk fokus pada pengembangan dan pembangunan kapal angkatan laut sejalan dengan modernisasi sistem pertahanan persenjataan utama Indonesia untuk militer.

PAL telah ditempa untuk memajukan sumber daya manusia dan fasilitas untuk membangun kapal perang yang lebih baik dalam beberapa tahun terakhir, dengan proyek-proyek saat ini terkonsentrasi pada manufaktur dua Perusak Kawal Rudal (PKR), atau guided-missile frigate, dengan galangan kapal Belanda dan tiga kapal selam dengan perusahaan Korea Selatan, semua dibeli oleh Angkatan Laut Indonesia.

Perusahaan memiliki dua tujuan utama untuk Indonesia, yaitu untuk menjadi lebih mandiri dalam membangun kapal perang dan memenuhi persyaratan persenjataan angkatan laut serta dapat mengekspor lebih banyak produk dalam negeri, ungkap Firmansyah.

“Salah satu hal yang saya fokuskan adalah bagaimana menjadi lebih baik di dunia internasional tanpa harus mengabaikan domestik,” katanya, menambahkan bahwa ambisi global akan mulai dengan pasar Indonesia sendiri.

Wakil Presiden Jusuf Kalla telah menunjukkan bahwa ekspor SSV Tarlac menandai waktu yang tepat bagi Indonesia untuk merebut momentum, untuk mengambil tempatnya di industri perkapalan global. Eropa dan Amerika Serikat telah mendominasi industri perkapalan global sejak 30 tahun yang lalu sebelum Jepang mengembangkan industrinya, diikuti oleh Korea Selatan dan sekarang China, ungkap Wakil Presiden.

“Sekarang adalah waktu untuk Indonesia, melalui PT PAL di Surabaya dan galangan kapal lainnya di Batam di Kepulauan Riau, untuk membuktikan fakta bahwa Indonesia, sebagai negara maritim, mampu menghasilkan kapal canggih seperti ini,” katanya di upacara pelepasan kapal pesenan Filipina pada bulan Mei lalu.

Firmansyah mengatakan beberapa negara maju tersebut telah mulai meninggalkan dalam industri manufaktur, dan dengan demikian, telah membuka jalan bagi Indonesia untuk menyambar dan mengembangkan statusnya sendiri di dunia.

PAL akan merebut saat ini dengan berfokus pada dua aspek, kata Firmansyah. Pertama, perusahaan akan berkolaborasi pada sisi pengembangan teknis dengan perusahaan yang lebih berpengalaman dari Eropa, Jepang dan Korea Selatan. Pada saat yang sama, ia juga akan melakukan berbagi pemasaran dengan pihak asing untuk menembus ke daerah lain, termasuk Asia dan Afrika, untuk mengalihkan fokus dari kapal buatan Eropa.

Ketika ditanya apakah Indonesia bisa bersaing secara global, Firmansyah menjawabnya dengan tegas.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjO-UFlNEMg6mYd8WdqSoJAkjpNxNpOnJBdgXT_-6JKJ7uo-1VCQxDIED2mr-fXHQH6Tlwk0hyphenhyphen_IIsHm3NYmYpjHsrTpxCHCCiri_26icZCMzdEsmEk_qLHlgh4MmdwVkaULtZwjsIhdQjt/s1600/philippine-navyphilstar.jpgBRP Tarlac produk ekspor pertama kapal perang PAL Indonesia (philstar)

Pengiriman SSV pertama ke Filipina menarik perhatian internasional, menyemangati sampai telinga angkatan laut asing yang diberitahu tentang suksesnya pelayaran perdana kapal tersebut. Perwakilan dari negara-negara di Asia Tenggara dan Timur Tengah telah menunjukkan minat dalam menempatkan pesanan kapal perang PT PAL, Firmansyah mengatakannya pada media namun menolak memberikan rincian lebih lanjut.

Perusahaan berharap bahwa dengan transfer keahlian teknologi lanjutan, dapat melontarkan kualitas produk Indonesia menjadi lebih tinggi, baik untuk kapal komersial dan angkatan laut.

SSV merupakan hasil kerjasama dengan perusahaan Korea Selatan Dae Sun Shipbuilding, dalam kontrak yang ditandatangani pada bulan Desember 2004 senilai 150 juta dollar. Kesepakatan termasuk pembangunan empat kapal landing platform dock (LPD), nama untuk jenis SSV yang digunakan oleh Angkatan Laut Indonesia, pada tahun 2010. PAL kini menerapkan keterampilan dan pengetahuan yang diperoleh melalui proyek tersebut untuk menghasilkan jenis kapal yang sama untuk dijual ke luar negeri.

 Mencapai Lebih Dalam 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhEpL_TgcLO7QqDAVX9n-RAV0DrSR7quTJXG-hf3nl0JzyVs3k9ibpSwuQSlL-kYQEZgYc8YE-ipjKSQGbwlzafCye2y7aVJsyLZW7aTZuIP_55qs3ucQty3UWFyy-AXLO0E7PS1snbbTPL/s1600/Type_209_1200_Submarine_KRI_Nagabanda_403_DSME_PT_PAL_TNI_AL_Indonesia_2.jpgKapal selam Chang Bo Go class, KRI 403 Nagabanda (TNI AL)

PAL saat ini bekerja dengan dua perusahaan asing, untuk menghasilkan sebuah kapal selam yang akan ditambahkan ke portfolio. Dalam hal ini berkolaborasi dengan Daewoo Shipbuilding dan Marine Engineering (DSME) Korea Selatan untuk membangun tiga kapal selam Chang Bo Go class. Dalam hal ini juga bekerja sama dengan galangan kapal Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) Belanda untuk membangun dua SIGMA 10514 kapal Perusak Kawal Rudal (PKR).

Kementerian Pertahanan menandatangani kontrak senilai 1,07 milyar dollar dengan DSME pada 2011 untuk membeli tiga kapal selam Chang Bo Go class. Sesuai dengan kontrak, dua kapal selam akan dibangun di Korea Selatan bekerja sama dengan PAL, sementara kapal selam ketiga akan sepenuhnya dibangun di fasilitas PAL di Surabaya.

Saat ini, operasi manufaktur masih terus berlangsung di Korea Selatan, sementara pada saat yang sama, fasilitas PAL sedang dibangun dalam persiapan dan diperkirakan akan siap pada bulan November tahun ini. Proyek ini diharapkan dapat diselesaikan pada 2018, ungkap Firmansyah.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhzJDDoC5GdIKMBwUrstFTXliSwoxQvWzAicL0EGFT-NasdYJ0cRZ1G4KH42VY1qzXe5V3wUlATkYcRCGMNXIfv1bgFJ0B38iKszYYFD9txMEFanLUsv-yk1zIR54FcvvSlMFIa-iXSaSmi/s1600/1417875_babycelong.JPGKRI RE Martadinata 331 (babycebong)

Kapal ini dilengkapi dengan sistem manajemen platform yang canggih yang memungkinkan operasi, sistem kontrol dan monitoring kapal. Hal ini dilengkapi dengan baik, state-of-the-art sensor dan paket senjata dalam pertempuran udara, permukaan dan ancaman sub-permukaan. Untuk membela diri, kapal ini juga dilengkapi dengan sistem peperangan elektronik yang komprehensif.

Mantan menteri pertahanan Purnomo Yusgiantoro menghadiri proyek pemotongan baja pertama pada tahun 2014 untuk menandai dimulainya pembangunan kapal, yang berlangsung di Belanda dan di Indonesia.

“Ini adalah bagian dari visi jangka panjang dari pemerintah Indonesia untuk mengembangkan industri sendiri untuk menghasilkan kualitas tinggi kapal angkatan laut yang maju,” kata manajer proyek Damen Tijs Buijs.

Desain, rekayasa, pembelian dan pembuatan modul sedang dilakukan di Vlissingen, Belanda. Karyawan dari PAL telah dikirim ke Vlissingen untuk dilatih dalam aspek seperti perencanaan, manajemen proyek, dan teknik, sementara di Surabaya, pelatihan yang dilakukan oleh Damen untuk tukang las, tukang baja, tukang pipa, outfitters, koordinator produksi dan insinyur mekanik.

Buijs mengatakan kapal angkatan laut itu sangat kompleks dan menimbulkan tantangan selama proses manufaktur, terutama karena itu adalah pertama kalinya bagi PAL dalam membangun frigat.

“Ini tidak selalu mudah dan butuh beberapa waktu untuk membiasakan diri satu sama lain, tapi kerjasama kami hari ini didasarkan pada kepercayaan dan persahabatan,” katanya, mencatat bahwa Indonesia bisa bangga pada frigat generasi berikutnya.

Namun, Buijs menggarisbawahi perlunya perbaikan terus-menerus di semua sektor jika Indonesia bertujuan untuk menjadi produsen kapal perang terkemuka, terutama mengingat potensi besar pasar pembuatan kapal dalam negeri. Dia menyarankan Indonesia untuk berinvestasi dalam strategi jangka panjang merencanakan pembangunan armada baru serta meningkatkan penelitian dan inovasi dalam teknologi kapal perang terus-menerus.

“Potensi ini pasti ada dan Indonesia bergerak pada trek yang benar untuk memulai memanfaatkan dan mengembangkan potensi ini,” kata Buijs.

Adapun tantangan perusahaan yang masih dihadapi, Firmansyah mendesak pemerintah untuk mengembangkan industri dalam memproduksi komponen kapal dan bahan lokal dalam rangka untuk memotong biaya, karena mayoritas bagian-bagian tersebut masih diimpor dari Eropa, Jepang dan Korea.

Dia juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah dalam hal pembiayaan proyek-proyek besar, yang membutuhkan investasi besar-besaran.

Namun, ia tetap optimis.

 Generasi Baru 
Foto AerialGalangan kapal PT PAL (thejakartapost)

Dalam rapat kabinet terbatas yang diadakan onboard kapal perang Imam Bonjol di perairan Natuna Kepulauan Riau pada bulan Juni, Jokowi menyoroti keinginan untuk meng-upgrade pertahanan maritim bangsa. Langkah ini mengirim pesan yang jelas tentang keseriusan Indonesia dalam menjaga kedaulatan dan integritas teritorial, khususnya di daerah-daerah yang berbatasan dengan negara-negara lain.

“Saya meminta militer dan Bakamla [Badan Keamanan Laut] untuk meng-upgrade kemampuan mereka untuk menjaga wilayah perairan kita dalam hal teknologi, peralatan, radar dan kesiapsiagaan,” kata Jokowi dalam sebuah pernyataan setelah pertemuan.

Firmansyah yakin bahwa industri perkapalan akan terus tumbuh di masa depan dan bahwa PAL akan mampu memenuhi peningkatan permintaan, menguraikan visinya sendiri bahwa pada tahun 2020, Indonesia akan mampu membangun semua frigat dan kapal selam lokal. Dia menamai visi tersebut dengan “New Generation”, di mana desain dan proses perakitan akan dilakukan dengan lancar.

“Diharapkan mereka yang sekarang berpartisipasi dalam transfer proyek teknologi, dan mereka masih relatif muda, dapat menularkan pengetahuan sebagai mentor untuk generasi masa depan,” katanya. [thejakartapost]

  ⚓️ Garuda Militer  

Laksanakan Operasi Tumpas di Irian

Bronco Diserbu Cuaca Ganas http://angkasa.co.id/wp-content/uploads/2016/08/DSC_0186-1-696x881.jpgMarsda (Pur) M Koesbeni, alumni AAU 69 'Bogowonto'. (Beny Adrian)

Pada tahun 1977, saat masih berlangsung Operasi Seroja di Timor Timur (sekarang Timor Leste), empat OV-10 Bronco TNI Angkatan Udara (AU) yang mendukung Operasi itu ditugaskan untuk mendukung operasi lainnya di Irian Barat. Keempat Bronco dari Skadron Udara 3 tersebut mengemban tugas untuk melaksanakan Operasi Tumpas di Irian Barat guna melumpuhkan gerakan separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM). Namun diakui oleh mantan penerbang Bronco TNI AU, Marsekal Muda (Pur) M Koesbeni, cuaca di langit Irian menjadi tantangan tersendiri untuk menjalankan misi menumpas OPM.

Selain cuaca, terdapat tantangan lain yang harus dihadapi oleh para penunggang Bronco dalam misi. Para pilot Bronco harus menempuh jarak yang lumayan jauh untuk sampai ke sektor pelaksanaan operasi di Bokondini, Waris, Wamena serta dua daerah lainnya. Saat menjalankan Operasi Tumpas di Irian Barat, Biak dijadikan base untuk sang kuda besi. Karena pada saat itu, di Jayapura pun kondisi tidak kondusif, sehingga kurang memungkinkan untuk dijadikan base di sana bagi keempat Bronco itu.

“Jadi kita betul-betul alert dengan cuaca, kita (lakukan) misi itu betul-betul lihat cuaca, jam berapa sampai jam berapa baiknya, terus harus ada alternate atau yang bisa untuk mendarat bagi yang tidak bisa kembali ke Biak. Yang penting itu ada alternate, jadi kalau misalnya kita di daerah tengah Irian itu, mendarat dulu di Wamena, isi bahan bakar, baru dia kembali. Tapi enggak pernah nginap disana (Wamena), rawan,” terang sang mantan Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Pangkohanudnas) kepada Angkasa, Kamis (25/8).

Koesbeni yang alumni AAU 69 ini mengatakan, untuk mengatasi permasalahan cuaca di langit Irian yang cepat sekali berubah, mudah saja caranya. Patokannya adalah jika mereka tidak dapat melihat tanah, mereka tidak akan melakukan penerbangan. Karena nilai minus dari OV-10 Bronco adalah belum dilengkapi oksigen, sehingga tidak memungkinkan untuk dapat naik lebih dari ketinggian 15.000 kaki. Sementara langit bersih berada di ketinggian lebih dari 30.000 kaki.

“Karena OV (OV-10F Bronco) kan waktu itu belum dilengkapi oksigen, dia hanya terbatas 10.000 kaki, ya maksimum 15.000 kaki lah. Kalau sudah pakai oksigen bisa di atas 15.000 kaki, jadi bisa naik kalau cuacanya jelek, jadi kita harus kenal betul medannya. Jadi misi kebanyakkan pagi, karena perubahannya (cuaca) cepat sekali,” jelas Koesbeni.

https://sejarahperang.files.wordpress.com/2011/05/bronco1.jpgSementara untuk alternatif pendaratan, Koesbeni mengatakan pada saat itu Merauke merupakan tempat yang aman, sehingga pesawat dapat bermalam di sana. Untuk mencapai Merauke, mereka harus melewati Oksibil baru dapat mendarat di sana.

“Dari Biak ke Merauke, dari Merauke kembali ke Biak, nah itu kita harus hati-hati masalah cuaca, karena kita juga pernah terjebak cuaca buruk di situ. Naik tidak bisa karena oksigen tidak ada, tidak bisa untuk instrument pesawatnya,” tutur mantan Asisten Operasi KSAU ini.

Ia menceritakan, Bad weather (cuaca buruk) yang ia dan rekannya hadapi saat itu berupa awan cumulusnimbus. Mereka harus terbang nyimpang untuk menghindarinya, dan mendarat di lokasi memungkinkan terdekat sambil menunggu cuaca normal kembali.

“Kita akhirnya break off (empat pesawat Bronco), rendezvous di pantai. Jadi mengarah ke arah barat, kita turun sampai melihat laut, kalau melihat pantai pasti aman kita. Tinggal ke arah utara hingga ketemu Nabire, nah kita mendarat di Nabire,” ungkap Koesbeni.

Sesampainya keempat Bronco di Nabire, hari sudah sore dan telah masuk waktu maghrib. Walau telah berhasil menghindari ganasnya cuaca dan mendarat, keempat Kuda Liar itu tidak bermalam di Nabire karena harus kembali ke base di Biak. Namun yang menjadi kendala adalah persedian bahan bakar yang tidak cukup untuk kembali ke Biak.

“Untung Merpati (penerbangan perintis yang digunakan saat itu) punya cadangan minyak di situ, kita bisa pinjam dulu. Yang penting diisi cukup untuk ke Biak, karena terbang malam. Di Biak juga cuaca buruk, hujan, jadi kita nunggu dulu, kita holding, baru setelah itu kita turun,” tandasnya.

Selama mengabdi di TNI AU sejak tahun 1976, pesawat antigerilya OV-10F Bronco yang dibeli dari Amerika Serikat, telah menjadi andalan bagi pasukan darat TNI dalam melaksanakan operasi. Kisah-kisah seperti yang dialami Marsda (Pur) Koesbeni ini, hanyalah segelintir dari kenangan yang terus terpatri di benak para penerbang Bronco.

Author: Fery Setiawan

 ♖ Angkasa  

Sekedar Opini

Perihal Ranpur M113A1 TNI AD https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXlETiNC5KDvvCKjlrwkCSe8Llg7pHz4dqFrvqqoP1A0d4jeje15loSgzB1cDLLChuqc4cF1_CoFJNfd6zE3o3W_Vja5dlGuGWE3yRdw4KBxuvkf79JTVd_BCQUNTYnZtHitz3Xf9Xz_0/s400/m113+%25281%2529.jpgRanpur M113 A1 TNI AD [def.pk]

Mengapa Indonesia menambah ranpur M113 A1BE bekas Angkatan Darat Belgia? Jawaban yang simple adalah TNI membutuhkan banyak ranpur (kendaraan tempur) untuk melindungi personil ketika mobilisasi pasukan keamanan ke daerah konflik.

Untuk memenuhi kebutuhan alutsista, Indonesia harus berpikir keras untuk mendapatkan yang terbaik. Sedangkan anggaran yang ada terbatas, itu juga banyak digunakan untuk kesejahteraan prajurit dan lainnya selain alutsista. Dari anggaran yang terbatas, Kemhan harus membagi anggarannya menjadi 4 bagian, seperti Mabes, TNI AD, TNI AL, dan TNI AU. Kebutuhan alutsista untuk 3 matra pun bukan hal yang murah, peralatan perang terkini semuanya serba canggih dan tentunya mahal.

Kendaraan pengangkut pasukan TNI dengan track (rantai), bisa dibilang tidak banyak dan mayoritas sudah perlu modernisasi. Solusi termudah adalah akuisisi ranpur bekas. Seperti diketahui modernisasi alutsista pun harganya tidak murah, malah biaya upgrade bisa mencapai setengah harga ranpur tersebut.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxbbBr0ZgHOfLyHGjg4h5LHsvRMAju8wEv9CFgdE7xLgXjq6WoSGVRUECgjDtf-bsGXxcsoE0nr4Ek__3OGaTkYodVamv6mvJg2EpWdg0hHKjNUM5vBhiayXONFeZF3vy375wjSwb-Z4cW/s1600/Tank+SBS+Versi+Roket+Multi+Laras.jpgPrototipe ranpur track Pindad [rafly]

Bila ada yang menanyakan kenapa bukan memilih Anoa APC, jawabannya Anoa APC ranpur dengan roda ban, beda kelas dan fungsi dengan track (rantai). Manuver roda rantai lebih handal daripada roda ban pada area offroad.

Banyak negara mengganti ranpur M113 dengan ranpur lebih handal dan kokoh. Indonesia memilih ranpur M113 A1 ex Belgia karena kebutuhan yang cepat dan murah. Namun nantinya bila PT Pindad sudah selesai dengan proyek APC track, bukan mustahil, nantinya semua armada track pengangkut pasukan beralih dengan produk PT Pindad.

M113 merupakan ranpur yang populer di dunia, banyak negara sudah lama akuisisi alutsista ini. Sebagai kendaraan tempur di daerah konflik, ranpur M113 masih layak digunakan. Sayangnya ranpur M113 memiliki body armour yang tipis dan mudah di tembus peluru kaliber 12,7 mm. Namun banyak negara masih menggunakan ranpur M113 sebagai "Battle Taxi". Bahkan beberapa negara sudah upgrade body-nya lebih kokoh dan tentunya lebih berat.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9s2BkBd6e8X9zZTxzWbhABla5NLYKSyU20iMqpZl0S78hc9VyYIVEcLuyoK-SbFas8I0Dn41KkLcS3bervFjaw8C-WoEj09z2FkLBeq0jWePcymzPXdvvNTM_uNW3WoWsde3qKY0Mvt8/s1600/1398805_20131005123400(Jaka92).jpgMarder 1A3 TNI AD [kaskus]

Selain M113, TNI AD juga telah akuisisi puluhan ranpur Marder 1A3 eks Jerman. Ranpur Marder 1A3 merupakan ranpur IFV (Infantry Fighting Vehicle) memiliki armour lebih baik dibandingkan M113, banyak military fanboys memilih ranpur Marder 1A3 sebagai kuda perisai pasukan TNI dan berharap PT Pindad suatu saat mendesain ranpur sekelas dengan Marder 1A3 APC.

Bahkan negara produsen Marder telah memamerkan prototipe terbaru dengan armour lebih kokoh dibandingkan sebelumnya. Sayanganya, Jerman memilih ranpur lain.

Kembali dengan M113 yang sudah datang sekitar 90 unit lebih merupakan batu loncatan untuk memenuhi kebutuhan proteksi bagi prajurit TNI. Kedepan bila semua terpenuhi, pasukan TNI akan jarang menggunakan truk dengan bak terbuka ke daerah konflik.

 ♖ Garuda Militer  

Jumat, 26 Agustus 2016

[Dunia] Australia Minta Perusahaan Perancis Jaga Ketat Informasi

Data Kapal Selam India Bocor Salah satu kapal selam kelas Scorpene buatan perusahaan Perancis DCNS yang dimiliki AL Malaysia. ★

Departemen Pertahanan Australia memperingatkan perusahaan Perancis (DCNS) yang membuat kapal selam di Adelaide untuk menjaga keamanan proyek tersebut.

Menteri Industri Pertahanan Christopher Pyne memerintahkan, agar peringatan itu disampaikan kepada DCNS.

Pada April lalu DCNS memenangkan tender senilai 50 miliar dolar atau sekitar Rp 500 triliun untuk membuat 12 kapal selam.

Lalu pekan ini, media Australia mengklaim sudah membaca 22.400 halaman dokumen terkait kemampuan tempur kapal selam kelas Scorpene yang dibuat DCNS untuk AL India.

Padahal sejumlah negara seperti Malaysia dan Chile juga menggunakan varian kapal selam yang sama. Sementara Brasil berencana meluncurkan armada kapal selamnya pada 2018.

Sejak itu muncul pembicaraan mengenai apakah perusahaan pertahanan Perancis itu telah diretas.

Kepada DCNS, Departemen Pertahanan Australia menghendaki tingkat proteksi yang sama seperti yang diberikan perusahaan Amerika Serikat untuk menjaga informasi saat membuat kapal selam Australia.

Hal ini terkonfirmasi hanya beberapa hari setelah Pyne mengatakan, pihaknya mendapat informasi bahwa kebocoran itu "tidak ada hubungannya" dengan program kapal selam masa depan yang dicanangkan pemerintah Australia.

"Program ini berjalan di bawah syarat keamanan yang ketat di mana seluruh informasi dan data teknis dikelola sekarang dan di masa depan," kata Pyne awal pekan ini.

"Syarat serupa berlaku dalam proteksi seluruh informasi sensitif dan data teknis untuk kapal selam Collins, dan telah berjalan baik selama beberapa dekade," lanjut Pyne.

Namun pada Jumat (26/8/2016) saat tampil di stasiun televisi Channel Nine, Pyne mengaku kebocoran itu sangat "memalukan" bagi DCNS dan AL India.

DCNS juga mengeluarkan pernyataan awal pekan ini yagn menyebutkan bahwa pemerintah Perancis akan menyelidiki dan memastikan dokumen yang bocor tersebut.

"Masalah yang terkait dengan India tidak ada hubungannya dengan program kapal selama Australia, yang beroperasi menurut aturan Pemerintah Australia mengenai perlindungan data sensitif," demikian pernyataan DCNS.

  ★ Kompas  

[Dunia] Duterte Beberkan Rahasia

Tebusan 50 Juta Peso Dibayar ke Abu SayyafPresiden Filipina Rodrigo Duterte. (Reuters) ★

Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengungkap fakta yang semestinya dirahasiakan Pemerintah Filipina. Fakta yang dibeber Duterte itu adalah adanya uang tebusan sebesar 50 juta Peso Filipina yang dibayarkan kepada Abu Sayyaf untuk pembebasan sandera asal Norwegia, Kjartan Sekkingstad.

Pembeberan rahasia oleh Presiden Duterte ini tak lazim. Sebab, Pemerintah Filipina memiliki kebijakan untuk tidak membayar uang tebusan untuk para penculik.

Namun dalam konferensi pers di kampung halamannya di Davao, pada Rabu malam, Duterte yang diduga keceplosan, mengatakan bahwa uang tebusan telah dibayarkan kepada Abu Sayyaf untuk pembebasan Sekkingstad. Meski, pria Norwegia itu hingga sekarang belum dibebaskan.

Komentar Duterte itu muncul ketika ditanya wartawan apakah dia mengetahui informasi perihal sandera asal Filipina berusia 18 tahun yang telah dipenggal kelompok Abu Sayyaf di Sulu karena tidak ditebus. Sandera Filipina yang dieksekusi itu bernama Patrick James Almodovar yang diculik Abu Sayyaf di Jolo pada 16 Juli.

Duterte tidak menanggapi spesifik soal nasib sandera asal Filipina itu. Dia justru tertarik membahas masalah uang tebusan yang jadi rahasia.

”Kalau itu salah, maka saya akan menuduh Abu Sayyaf bertindak dengan itikad buruk. Mereka telah dibayar P50.000,” katanya. Sesaat kemudian, Duterte mengoreksi nominal uang tebusan itu. Bukan 50 ribu Peso Filipina, tapi 50 juta Peso Filipina.

Meski demikian Duterte menolak untuk mengatakan dari mana uang tebusan 50 juta Peso Filipina itu berasal. ”Mungkin dari bank saya,” canda Duterte, seperti dikutip dari Inquirer, Jumat (26/8/2016).

Abu Sayyaf sebelumnya menuntut tebusan 300 juta Peso Filipina untuk kebebasan Sekkingstad. Tuntutan itu pernah disampaikan Abu Sayyaf dalam sebuah video setelah kelompok itu mengeksekusi sandera asal Kanada John Ridsdel. (mas)

  ★ sindonews  

Selasa, 23 Agustus 2016

Dua WNI Lolos Saat Militer Filipina dan Abu Sayyaf Baku Tembak

http://cdn.idntimes.com/content-images/post/20160818/mu-merdeka-73d7d82775a59c8a8c0fcaa2c06d4477_420x280.jpgSalah satu ABK yang berhasil kabur, Muhamad Sofyan (REUTERS/Stringer)

Dua Warga Negara Indonesia (WNI) yang disandera sejak Juli lalu, Mohamad Sofyan dan Ismail berhasil melarikan diri karena memanfaatkan situasi baku tembak antara aparat Filipina dengan kelompok bersenjata Abu Sayyaf.

Mohamad Sofyan merupakan awak Tug Boat Charles berhasil melarikan diri pada Rabu 17 Agustus 2016 dini hari, sedangkan Ismail berhasil melarikan diri pada Kamis 18 Agustus lalu.

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso mengatakan, hingga kini militer Filipina masih menggempur kelompok Abu Sayyaf.‎ "Itu menyebabkan mereka pindah sana pindah sini. Makanya ada kesempatan yang dianggap bagus, dua orang itu memanfaatkan kesempatan itu," ujar Sutiyoso di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (23/8/2016).

Dia menyampaikan, pihaknya terus memantau perkembangan upaya Filipina dalam membebaskan para sandera. Namun, diakuinya pergerakan militer Indonesia di wilayah Filipina sangat terbatas oleh aturan otoritas negara tersebut.

"Ya kita terus monitor, berusaha maksimal berupaya untuk membebaskan mereka bagaimanapun caranya. Kecuali kita disuruh bayar, kita enggak mau," ucapnya.

 Monitor Terus 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbODcjrnIVEH6GmM7M2VhlOJ56OXcQP_xLIbOSTL7v4Ev1_Ej20AppfeafchyphenhyphenxOsKn2NpRUTYEccPq4geGOY1gp0cKUwJvLCgkpncpoBg5xAxZT843GMHI5Fk6cV4gf_y_jKEVl2Q9zXaf/s1600/Abu-Sayyaf-Last-Stronhold-falls_2_CNNPH.jpgMarkas Abu Sayyaf diduga berada di dalam tanah [CNNphilippines]

Militer Filipina sudah mengetahui markas besar kelompok bersenjata Abu Sayyaf. Perkembangan ini merupakan bukti keseriusan militer Filipina dalam berupaya membebaskan Warga Negara Indonesia (WNI) yang disandera kelompok bersenjata Abu Sayyaf.

Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu mengatakan, pihaknya terus menjalin konunikasi dengan pihak Filipina untuk mendapatkan informasi terbaru. Informasi, kata dia terus diperbarui guna mengetahui perkembangan WNI yang disandera.

"Kemarin di Basilan itu ditemukan markas besarnya ada di dalam tanah. Jadi Basilan sudah bersih. Tinggal ‎(Pulau) Sulu," ungkap Ryamizard usai menghadiri Apel Nasional Bela Negara, di Silang Monas, Jakarta Pusat, Selasa (23/8/2016).

Menurutnya, selama operasi militer yang dilakukan tentara Filipina, sebanyak 300 anggota kelompok bersenjata Abu Sayyaf tewas. Jumlah itu, belum ditambah dengan anggota yang luka-luka mencapai 130 orang.

"Jadi cukup signifikan kita berterima kasih pada Pemerintah Filipina yang benar-benar serius menangani ini‎," ucapnya.

Namun, mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) mengaku belum mendapat informasi terbaru mengenai sembilan WNI yang masih disandera kelompok bersenjata Abu Sayyaf. Dia hanya memastikan para WNI yang disandera dalam kondisi sehat.

"Beliau (Menhan Filipina) melihat kesempatan (kelompok Abu Sayyaf) lari. Nah itu akibat dari tekanan pasukan Filipina," tandasnya. (kur)

 ♖ Sindonews  

Minggu, 21 Agustus 2016

[Dunia] Ekspor Peralatan Militer ke China

Wanita AS Dibui 4 Tahun https://cdn.sindonews.net/dyn/620/content/2016/08/21/42/1132757/ekspor-peralatan-militer-ke-china-wanita-as-dibui-4-tahun-Pgm.jpgDrone MQ-9 Reaper. (Istimewa) ☆

Seorang wanita asal California dijatuhi hukuman lebih dari 4 tahun di penjara federal. Ia dituding bersekongkol karena telah mengekspor peralatan militer ke China, termasuk mesin jet tempur dan pesawat tak berawak Amerika Serikat (AS).

Seorang hakim federal Miami menghukum Wenxia Man (45), warga naturalisasi asal San Diego, karena bersekongkol mengekspor peralatan militer tanpa izin. Man bekerja dengan orang di China untuk mengekspor mesin yang digunakan untuk jet tempur F-135, F-22 dan F-16. Selain itu, ia juga mengekspor drone MQ-9 Reaper senilai USD 50 juta dan mampu menembakkan rudal Hellfire.

Hakim mengatakan, dengan sejumlah bukti tersebut, Man memiliki niat yang jelas menyediakan China peralatan yang akan mendatangkan keuntungan militer. Man ditetapkan bersalah karena bersekongkol dengan pria yang berbasis di China, yang disebutnya sebagai "mata-mata teknologi", karena secara ilegal memperoleh dan mengekspor peralatan militer seperti dikutip dari laman The Guardian, Minggu (21/8/2016).

Man diduga telah mengatakan kepada Homeland Security, agen investigasi rahasia, ia bekerja dengan mata-mata yang membantu China untuk mendapatkan salinan sejumlah item militer dari negara lain. Ia mendapatkan bayaran berupa obligasi sebesar USD 250 ribu sejak akhir tahun lalu.

Namun pengacara Man mengatakan jika ia telah dijebak oleh agen federal dan kliennya akan mengajukan banding atas vonis tersebut. Pengacara Man mengatakan bahwa tindakan kliennya bukan upaya serius untuk menyediakan material militer untuk China. Namun pihak Jaksa mengatakan bahwa email dan panggilan telepon adalah bukti yang menunjukkan jika Man tahu dirinya terlibat tindak pidana. (ian)

  ★ sindonews  

Jumat, 19 Agustus 2016

Perihal BT-3F

Varian Angkut Pasukan BMP-3F yang Dibuat atas Masukan Marinir TNI ALhttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmxS1uzwMqbCShtCFqTovne3_XvIupXc6rVt3DCrN4YGhAqI7h4JOqJAf5OZv1ycFsTUgS8PVuRIgyc2MOdDquy2rkaetBWnjMGu__wYch5_Nq4356Ic4uQWhMqPswT8KjJ9n93anrvUo/s800/3432168_original.jpgKendaraan pendarat BT-3F (BMPD)

Selama empat hari terakhir ada pemberitaan yang cukup mengusik hati para penggemar kemiliteran di tanah air. Sejumlah media online Rusia seperti bmpd memberitakan kehadiran satu varian baru dari BMP-3 yaitu BT-3F yang merupakan kendaraan angkut pasukan murni. Yang mengherankan, BT-3F dikatakan sebagai pesanan Korp Marinir TNI AL. Benarkah begitu?

Dari sisi kebutuhan, Korps Marinir memang butuh tambahan alutsista dalam bentuk ranratfib (Kendaraaan Pendarat Amfibi). Apalagi dengan pemekaran organisasi menyusul pembentukan Pasmar 3 di Sorong. Sudah tentu ada kebutuhan tambahan untuk mengadakan ranratfib. Prinsipal kendaraan pendarat Marinir adalah BTR-50P dan yang lebih baru LVTP-7. BTR-50P jelas sudah sangat tua dan butuh pengganti segera, walaupun sejumlah BTR-50P sudah menjalankan upaya repowering dan upgrade di pertengahan 1990-an.

Sumber berita tersebut datang dari wawancara media Moscow Defense Brief dengan Deputi Direktur perusahaan KTZ (Traktornie Zavody) Alexey Losev yang dengan anggaran perusahaan sendiri mengembangkan modifikasi dari BMP-3F dalam bentuk BT-3F.

BT kependekan dari Bronentransporter atau pengangkut pasukan. BT-3F yang dikembangkan KTZ akan dipamerkan dalam pameran di Rusia dan ditawarkan untuk kebutuhan AL Rusia. Alexey juga mengatakan bahwa Indonesia tertarik dengan produk mereka, walaupun secara umum pemberitaan dari media Rusia semacam ini cenderung bombastis dan perlu diverifikasi kebenarannya.

Nah, dari ranpurnya sendiri sosoknya memang cukup menarik. BT-3F secara umum menggunakan hull yang sama dengan BMP-3 yang ditenagai mesin diesel UTD-29M berdaya 500hp. Jarak jangkau BT-3F masih sama dengan BMP-3F, kurang lebih 600 kilometer. Yang berbeda pada BT-3F, terdapat ‘kabin’ yang atapnya lebih tinggi dari bagian depan kendaraan, yang dijadikan kompartemen untuk pasukan.

Untuk melihat ke arah luar, di pinggir atap kabin ini terdapat dua ‘jendela’ di tiap sisi untuk melihat ke arah atas. Modifikasi ini membuat BT-3F sepintas sangat mirip BTR-50P walaupun daya angkutnya masih kalah dengan ‘simbah’ BTR-50P.

(Nikolai Novichkov)

Karena BT-3F tidak menggunakan kubah bermeriam, maka posisi komandan dan juru tembak kini digeser ke dalam kabin. Sementara di bagian depan pengemudi duduk di tengah kendaraan. Di bagian depan ada tiga palka terpisah, satu palka di kiri dan kanan pengemudi kemungkinan juga merupakan akses keluar pasukan.

Perubahan lainnya ada pada posisi juru tembak senapan mesin depan, yang pada BMP-3F ada di kiri-kanan depan. Pada BT-3F hanya stasiun kanan yang dipasang senapan mesin PKT 7,62mm, sisi kirinya dibiarkan kosong dengan plexiglass menggantikan dudukan senapan mesin.

Bagian kabin yang lebih tinggi merupakan kompartemen tempur untuk awak, dan dapat menampung sampai 14 pasukan bersenjata lengkap. Pasukan keluar dari pintu akses di atap kendaraan yang membuka ke kanan dan ke kiri, ditambah pintu akses belakang yang berukuran kecil.

[​IMG]Varian lain BT-3F (gurkhan)

Akses keluar utama dari atas ini merupakan keharusan karena desain mesin keluarga BMP-3 yang terpasang di lantai bagian belakang, sehingga tidak memungkinkan untuk membuat pintu akses yang sepenuhnya terbuka dari belakang.

Untuk sistem senjata, BT-3F cukup mengandalkan sistem senjata remote (RCWS) DPV-T bermodalkan senapan mesin 7,62x54mm PKTM, dengan sistem pertahananan berupa dua klaster pelontar granat asap dengan total berjumlah enam buah. Di dek tempat RCWS DPV-T terpasang masih ada lima periskop yang memberikan bidang pandang 180 derajat untuk komandan kendaraan yang kemungkinan besar juga bertugas sebagai juru tembak. Apabila pembeli menghendaki sistem RCWS lain yang mau dipasang, hal ini juga dapat dilakukan untuk menyesuaikan keinginan pembeli.

Mengenai kemungkinan Korps Marinir membeli BT-3F, pendapat penulis, jalannya masih jauh. BT-3F masih merupakan purwarupa yang belum mendapatkan sertifikasi dari Angkatan Bersenjata Rusia. Dari sisi kebutuhan, Korps Marinir sedang fokus untuk membenahi proteksi LVTP-7 dan berencana menambah beberapa unit lagi.

Kebutuhan lain yang tak kalah penting adalah pengadaan tank amfibi untuk Pasmar 3 karena stok PT-76 sebagai pemukul utama juga sudah sama tuanya dengan BTR-50P dan jelas juga perlu diganti. Kalau dalam jangka waktu menengah 3-5 tahun, barulah berita BT-3F diniatkan untuk dibeli baru masuk di akal.

Author: Aryo Nugroho

 ♖ Angkasa  

Kamis, 18 Agustus 2016

Bebas dari Abu Sayyaf pada Hari Kemerdekaan RI

Setelah hampir dua bulan disekap Abu Sayyaf, Sofyan berhasil kabur.Muhammad Sofyan dikawal polisi Filipina setelah berhasil meloloskan diri dari Abu Sayyaf. (REUTERS/Stringer) ☆

Kisah dramatis muncul pada Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2016. Ini terjadi di Filipina, Seorang warga Indonesia yang jadi sandera kelompok Abu Sayyaf, Muhammad Sofyan, berhasil melarikan diri setelah disekap selama hampir dua bulan.

Sofyan merupakan anak buah kapal kapal tugboat Charles berwarganegara Indonesia, yang disandera Abu Sayyaf sejak 23 Juni 2016. Dia dan teman-temannya ditangkap di Perairan Sulu, Filipina Selatan.

Bersama dengan Sofyan, ada enam WNI lainnya yang diculik kelompok pengganggu di Filipina bagian selatan itu. Keenamnya adalah Kapten kapal Sofyan Feri Arifin, Muhammad Mahbrur Dahri, Edy Suryono, Ismail, Robin Piter dan Muhammad Nasir.

Sofyan ditemukan oleh penduduk setempat di garis pantai Barangay Bucal, kota Luuk, Sulu, Filipina Selatan, sekitar pukul 07.30 waktu setempat.

Lolosnya Sofyan disambut lega keluarganya di Samarinda, Kalimantan Timur. Sepupu Sofyan, Risna mengaku lega sanak saudaranya berhasil lolos setelah dua bulan disandera. Syukur itu disampaikan juga lantaran lolosnya Sofyan melewati tenggat waktu yang telah diberikan Abu Sayyaf sebelumnya, yaitu pada 15 Agustus 2016.

"Saya dan keluarga bersyukur karena saudara kami, Muhammad Sofyan, berhasil melarikan diri dan selamat dari Abu Sayyaf," kata Risna.

Meski bersyukur, Risna mengatakan masih prihatin dengan nasib enam ABK lainnya yang ditangkap Abu Sayyaf bersama Sofyan. Rasa khawatir itu wajar, sebab lolosnya Sofyan bisa juga mengancam nasib keenam rekannya.

Laporan Antv menunjukkan kegelisahan Elona, istri Robin Piter. Elona mengaku sangat was-awas dan masih diliputi kekhawatiran. Sebab, sejauh ini belum ada tanda atau kabar enam sandera akan dilepaskan atau dibebaskan dalam waktu dekat.

Kabar lolosnya Sofyan dikonfirmasi oleh Kementerian Luar Negeri. Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal mengatakan benar Sofyan telah lepas dari sekapan Abu Sayyaf. Kemenlu kini cepat langsung berkoordinasi dengan pemerintah Filipina untuk memastikan kondisi keberadaan Sofyan.

Iqbal mengatakan, Rabu siang ini waktu Filipina, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi sudah berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Filipina Perfecto Yasay Jr.

"Saat ini dia (Sofyan) sudah diamankan pihak Kepolisian Sulu, Filipina Selatan," ujar Iqbal di Jakarta, Rabu 17 Agustus 2016.

Dia mengatakan, Tim dari KBRI Manila dan KJRI Davao langsung bergegas menuju Zamboanga City guna menangani proses selanjutnya dan memastikan kondisi yang bersangkutan.

Militer Filipina mengidentifikasi, penculik ketujuh ABK kapal Charles adalah kelompok yang pro Abu Sayyaf, Muktadil Brothers, yang berbasis di Tawi-Tawi, Filipina Selatan.

Dikutip dari laman Philstar, Rabu 17 Agustus 2016, Juru Bicara Militer di Filipina Selatan, Mayor Filemon Tan mengatakan kelompok tersebut punya tugas khusus dalam rangkaian penyanderaan.

"Tugas mereka menculik kru kapal dan mengirim korban sandera kepada kelompok Abu Sayyaf," kata Tan.

Menurut laporan intelijen, Tan mengatakan, Abu Sayyaf tetap menuntut uang tebusan sebesar 20 juta Ringgit atau sekitar Rp 60 miliar untuk pembebasan para sandera Indonesia.

 Momen penting

Lolosnya Sofyan itu dipandang sebagai momentum baik bagi upaya pembebasan sandera tersisa. Pengamat hubungan internasional Universitas Paramadina, Emil Radiansyah, mengatakan pemerintah Indonesia bisa mengambil momen itu untuk meningkatkan kerja sama patroli bersama dengan Filipina dan Malaysia. Sebagaimana diketahui, ketiga negara telah sepakat untuk menggelar kerja sama patroli di Yogyakarta beberapa waktu lalu, merespons banyaknya kasus penyanderaan di perairan Filipina Selatan.

Emil menilai, dalam hal kerja sama patroli bersama itu, Filipina belum menunjukkan komitmen sepenuhnya. Sementara Indonesia dan Malaysia sudah total komitmen dalam patroli bersama.

"Filipina belum 100 persen soal itu. Jadi memang yang perlu ditekankan adalah dari pemerintah Filipina," kata dosen Universitas Paramadina itu kepada VIVA.co.id, Rabu 17 Agustus 2016.

Untuk menekan komitmen pemerintah Filipina, Emil mengusulkan, Indonesia bisa memainkan ketergantungan Filipina atas batu bara dari Indonesia. Pemerintah, kata Emil, bisa memutuskan pengiriman (moratorium) batu bara ke Filipina. Hal itu agar 'memaksa' Filipina lebih fokus dalam penanganan sandera di area mereka.

"Opsi (menekan melalui) ASEAN bisa dilakukan. Filipina kan penggagas pemberantasan terorisme di regional," kata dia.

Untuk itu, selain menekan Filipina, perlu dilakukan peningkatan kerja sama ketiga negara mutlak perlu dilakukan. Caranya pemerintah Indonesia perlu memainkan diplomasinya dalam patroli bersama.

Soal bentuk peningkatan kerja sama, Emil memaparkan bisa dilakukan beberapa bentuk. Pertama, misalnya TNI bisa masuk ke area angkatan bersenjata Filipina. Opsi peningkatan lainnya, bisa saja memungkinkan patroli bersama Filipina dan Malaysia di teritorial kedua negara tetangga tersebut.

Dia mengatakan opsi negosiasi perlu terus dilakukan pemerintah Indonesia. Sebab operasi militer tanpa negosiasi menurutnya langkah yang percuma. Jika saja operasi militer tetap dijalankan, tapi tak mengetahui detail kondisi sandera, maka bisa menjadi bumerang, sandera bisa dibunuh kelompok Abu Sayyaf.

Emil mengatakan operasi militer dan negosiasi dilakukan bersama dengan melibatkan milisi lokal di Filipina Selatan misalnya Moro National Liberation Front (MNLF).

Langkah itu perlu dilakukan sebab, menurut Emil, saat ini kelompok Abu Sayyaf sudah lintas batas, tak hanya beroperasi di perairan Filipina Selatan saja.

"Mereka (Abu Sayyaf) sifatnya lintas batas sekarang, berani lintas teritorial. Misalnya di area Malaysia mereka menculik lalu di bawa ke Filipina Selatan. Di area ini (Filipina Selatan) juga penjagaan kurang," jelasnya.

 Mengharap Duterte

Selain upaya diplomasi, Indonesia juga bisa berharap pada gebrakan dan ‘kegarangan’ dari Presiden Filipina, Rodrigo Roa Duterte.

Memang sejak dia dilantik jadi orang nomor satu Filipina, Duterte sudah memberikan sinyal ketegasan penegakan hukum. Bahkan tak tanggung, Duterte mengaku siap menghadapi langsung Abu Sayyaf.

Duterte memerintahkan kepada tiga matra di tubuh Angkatan Bersenjata Filipina, yakni AD, AL, dan AU, untuk menumpas habis kelompok militan Abu Sayyaf. Menurutnya, kawasan selatan yang mayoritas dihuni warga Muslim Filipina terancam dipengaruhi oleh paham ISIS apabila langkah tegas tidak cepat dilakukan.

"Hancurkan mereka. Itu adalah perintah!" tegas Duterte dalam pidatonya di Pangkalan Militer Zamboanga, Mindanao, Filipina Selatan, 11 Agustus 2016.

Di mata Duterte, Abu Sayyaf adalah kelompok bandit berkedok militan. Mereka membunuh warga sipil tanpa alasan dan sejak awal tidak membuka ruang negosiasi.

Dia mengatakan, jika Abu Sayyaf dibiarkan maka dalam tiga sampai tujuh tahun ke depan, Filipina akan mulai punya persoalan dengan ISIS. Makanya, dia siap berhadapan dengan Abu Sayyaf.

"Akan tiba waktunya bagi saya untuk berhadapan langsung dengan Abu Sayyaf," tuturnya sebelum dilantik menjadi presiden.

Terbaru, Duterte menegaskan siap mempertaruhkan jabatannya untuk menumpas terorisme. Dia berjanji tak akan membiarkan Filipina diacak-acak oleh serangan teror apa pun.

Dia mengatakan, perbuatan teroris itu seperti ISIS. Kelompok teror tak punya ideologi politik, tak punya konsep, melukai membunuh perempuan dan anak-anak. Duterte juga miris dengan praktik barbar teroris di Filipina yang berani memenggal leher sandera.

"Ini (pernyataan) adalah sikap tegas saya dan saya akan terus mengingatkan. Saya akan hancurkan terorisme seperti yang saya katakan sebelumnya. Dan ini pertaruhan kehormatan, hidup dan jabatan saya sebagai Presiden Filipina," paparnya.

Sikap tegas dan garang Duterte menjadi harapan bagi Indonesia. Emil mengakui kemampuan Duterte untuk mengendalikan keadaan sandera. Sebab mantan Wali Kota Davao itu dikenal punya pengalaman bisa menyelesaikan ketegangan dengan kelompok yang berseberangan dengan pemerintah Filipina.

Emil berharap Duterte bisa terus sigap dan aktif menjalin dukungan ke MNLF dan kelompok lain di Filipina Selatan untuk menuntaskan kelompok Abu Sayyaf.

"Diharapkan bisa jadi efek jera bagi Abu Sayyaf," katanya.

Namun demikian, menurut Emil, tak mudah untuk menyelesaikan kelompok anti pemerintah di Filipina Selatan, sebab pengalaman selama ini, pemerintah Filipina belum berhasil sepenuhnya.

"Konflik di Filipina Selatan itu bisa lama (penyelesaiannya). Otonomi ke MNLF sudah pernah diberikan tapi tak selesaikan masalah," tutur dia.

Tapi, bukan berarti langkah menyelesaikan pergolakan di Filipina Selatan tanpa peluang. Emil mengatakan, Duterte bisa menggandeng dukungan MNLF untuk menumpas Abu Sayyaf. Caranya, menjadikan MNLF sebagai sekutu sekaligus mitra menghancurkan kelompok teroris.

"Duterte bisa lebih erat dengan MNLF. Duterte tepat, tinggal dukungan dari aparatur militer (Filipina), masyarakat (Filipina) dan regional (ASEAN)" jelas dia. (ren)
Selain Sofyan, ABK WNI Lainnya Berhasil Kabur?Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. (Puspen TNI) ☆

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo membenarkan adanya warga negara Indonesia (WNI) sandera kelompok Abu Sayyaf yang melarikan diri. Tak hanya itu, Gatot juga mendapat laporan bahwa adalagi beberapa sandera yang berhasil lolos.

"(Informasi) Ini harus saya kroscek kembali. Saat ini saya belum bisa memastikan berapa orang (WNI yang kabur). Tapi, saya dengar satu orang berhasil melarikan diri," kata Gatot, di Istana Merdeka Jakarta, Rabu 17 Agustus 2016.

Ia pun meminta seluruh masyarakat Indonesia untuk berdoa, dan pihaknya belum bisa memberikan keterangan apa-apa.

Kendati demikian, Gatot mengaku akan ada "sesuatu" dalam satu atau dua hari ke depan. Meski begitu, mantan KSAD ini lagi-lagi enggan buka mulut apa yang dimaksud.

"Saya hanya bisa katakan bahwa dalam waktu dekat. Saya belum bisa memberikan komentar karena belum ada kepastian. Tapi, mudah-mudahan (minggu ini)," jelas Gatot.

Senada, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi juga memastikan kalau tidak lama lagi 10 sandera yang ditahan sejak Juni lalu akan terbebas dari kelompok bersenjata yang diincar Presiden Filipina Rodrigo Duterte itu.

"Doakan saja. Dalam waktu dan tidak akan lama lagi saudara-saudara kita segera bebas. Intinya, yang ingin saya tekankan di sini adalah setiap jam dan hari, pemerintah berupaya keras untuk membebaskan seluruh saudara kita," jelas Retno.

Seperti diketahui, Muhammad Sofyan (28) merupakan satu dari tujuh ABK WNI kapal tugboat Charles yang diculik kelompok Abu Sayyaf Perairan Sulu, Filipina Selatan, pada 23 Juni 2016.

Setelah Sofyan bebas, masih ada enam ABK lagi yang ditawan kelompok militan itu. Mereka adalah Kapten kapal Sofyan Feri Arifin, Muhammad Mahbrur Dahri, Edy Suryono, Ismail, Robin Piter dan Muhammad Nasir.

Sofyan ditemukan oleh penduduk setempat di sekitar pantai Barangay Bucal, kota Luuk, Sulu, Filipina Selatan, sekitar pukul 07.30 waktu setempat, pada Rabu.
Satu tawanan lain yang dikabarkan berhasil kabur juga masih dicariJuru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Arrmanatha Nassir. (VIVA.co.id/Rebecca Reiffi Georgina) ☆

Seorang WNI anak buah kapal tugboat Charles bernama Muhammad Sofyan yang disandera Abu Sayyaf, kemarin telah berhasil melarikan diri dari penyanderaan. Namun pihak Kementerian Luar Negeri RI belum bisa membeberkan kronologis kaburnya ABK tersebut.

"Detail penjelasan mengenai proses bebasnya Muhammad Sofyan dari kelompok Abu Sayyaf belum bisa diungkapkan, karena saat ini yang bersangkutan masih diwawancara. Kita masih perlu menunggu Berita Acara Pemeriksaan (BAP)," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Arrmanatha Nasir kepada wartawan, Kamis, 18 Agustus 2016.

Diketahui bahwa Sofyan berhasil kabur dengan cara berenang ke laut dan ditemukan oleh penduduk setempat di garis pantai Barangay Bucal, Sulu, Filipina Selatan. Terkait hal ini, Arrmanatha memastikan bahwa kondisi kesehatan Sofyan saat ini dalam keadaan baik, sementara pemeriksaan kesehatan lebih lanjut masih sedang dilakukan.

Terkait kabar adanya sandera lain yang juga berhasil melarikan diri dari kelompok Abu Sayyaf, Arrmanatha mengaku masih perlu melakukan penyelidikan dan melakukan konfirmasi atas informasi tersebut.

"Infonya memang masih ada lagi sandera yang saat ini kemungkinan juga berhasil kabur. Namun kami masih perlu mengonfirmasi ada di mana WNI itu, dan apakah memang betul ada sandera yang kabur dari para penyanderanya," ujar Arrmanatha.

Atas kejadian penyanderaan yang terus berulang ini, pihak Kemlu menyatakan telah melakukan berbagai strategi, salah satunya melalui tingkat diplomasi oleh Menlu RI yang selalu menekan pemerintah Filipina untuk mendorong dan mengambil langkah tegas agar segera bisa membebaskan sandera di sana.

"Komunikasi dan koordinasi antara kedua negara terus dilakukan secara intensif. Intinya kami membuka semua jalur yang memungkinkan, KJRI di sana juga membuka informasi untuk mencari keadaan di mana sandera berada. Namun perlu diingat bahwa situasi dan dinamika di setiap kejadian berbeda sehingga kami perlu bertindak hati-hati," ujarnya menegaskan.
Menlu Benarkan Dua WNI Tawanan Abu Sayyaf Sudah BebasMenteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno LP Marsudi. (REUTERS/Darren Whiteside) ☆

Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, membenarkan bahwa dua orang warga negara Indonesia yang ditawan kelompok bersenjata Abu Sayyaf di Filipina sudah bebas. Kedua warga itu diketahui bernama Sofyan dan Ismail, yang bebas pada Rabu, 17 Agustus 2016.

Ismail, kata Retno, masih berada di Sulu. Kedutaan Besar RI di Manila bersama Konsulat Jenderal RI di Davao akan membawa Ismail ke Samboanga.

"Dari tadi pagi kami lakukan komunikasi terus dengan kawan-kawan kita yang ada di Samboanga, dan diperoleh informasi bahwa saat ini Pak Ismail masih berada di Sulu dan sore ini akan menuju Samboanga," kata Retno usai bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, pada Kamis, 18 Agustus 2016.

Kedua warga Indonesia itu segera dipulangkan ke Indonesia setelah tiba di Manila. Petugas KBRI dan KJRI langsung turun ke lokasi untuk mengurus segala halnya. Semua dipastikan dalam kondisi sehat.

Ia mengaku sudah berkomunikasi dengan otoritas Filipina, termasuk informasi-informasi di lapangan mengenai kondisi para sandera.

Presiden sudah mendapatkan laporan mengenai dua tawanan asal Indonesia yang sudah bebas itu. Kepala Negara tetap menginginkan seluruh sandera dalam keadaan selamat. Itu menjadi prioritas utama pemerintah.

Menteri menjelaskan masih ada sembilan warga Indonesia yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina. Pemerintah Indonesia terus berusaha membebaskan mereka dengan bantuan dan kerja sama Filipina. (mus)

  ☠ Vivanews