Comments

Side Ads

Blogroll

Featured 1

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 2

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 3

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 4

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 5

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Tampilkan postingan dengan label Pesawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesawat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Agustus 2016

[Foto] Pesawat Produksi PT DI

Penampakan pesawat produksi PT Dirgantara IndonesiaPT Dirgantara Indonesia, Perusahaan milik negara baru-baru ini telah menyelesaikan pesanan dari TNI AU maupun negara Filipina. Dalam gambar yang diposkan pr1v4t33r, terlihat jenis pesawat yang telah rampung, siap di serahterimakan.

ptdi-1.jpg

Pesawat hasil kerja PT Dirgantara Indonesia meluncur keluar dari hanggar di Bandung. [pr1v4t33r]
ptdi-2.jpg

Pesawat pesanan TNI AU, CN 235 MPA siap ujicoba terbang dan di check kelayakannya. [pr1v4t33r]
ptdi.jpg

Pesawat CN 235 MPA pesanan TNI AU berbeda penampilannya dengan pesawat MPA TNI AU terdahulu. [pr1v4t33r]

Foto bersama 3 pesawat produksi PT DI. [pr1v4t33r]
nc-212-ph.jpg

2 Pesawat NC212i pesanan Filipina telah rampung dan siap diserahterimakan. Beredar berita bahwa PT DI di blacklist oleh pemerintah Filipina. Bila benar adanya, kemungkinan pengiriman akan tertunda sampai ada clearance dari Filipina. [pr1v4t33r]
nc-212-ph2.jpg

Pesawat NC212i pesanan Filipina dimandikan sebelum parkir. [pr1v4t33r]
  ☆ Garuda Militer  

Selasa, 30 Agustus 2016

[Dunia] F-18 C Swiss Hilang

Militer Swiss Adakan Pencarian Jet Tempur Yang Hilang http://www.cavok.com.br/blog/wp-content/uploads/2014/08/F-18-hornet-sui%C3%A7a.jpgF-18 Swiss [cavok.com.br] 

Militer Swiss saat ini sedang mengadakan operasi pencarian usai salah satu pesawat jet tempurnya hilang saat mengikuti latihan.

Sebagaimana dikutip dari The Guardian, Selasa (30/8/2016), pesawat yang hilang tersebut berjenis F-18 C Hornet dengan satu kursi. Kementerian Pertahanan (Kemhan) Swiss mengatakan pesawat itu hilang di dekat Susten yang berlokasi di Swiss bagian tengah pada Senin 29 Agustus 2016 sore waktu setempat.

Kemhan Swiss menduga pesawat tersebut jatuh di wilayah pegunungan Alpen yang sulit diakses. Dilaporkan, cuaca buruk juga menyulitkan proses pencarian pesawat tempur tersebut.

Pesawat itu lepas landas dari markas udara di Meiringen pada pukul 15.00. Dikabarkan, F/18C Hornet itu merupakan pesawat kedua yang mengikuti latihan yang sedang diadakan militer Swiss pada Senin.

Tidak lama setelah lepas landas, pesawat mendadak hilang kontak dan langsung dinyatakan hilang oleh pihak militer Swiss. Operasi pencarian langsung dilakukan menggunakan helikopter ketika pesawat itu hilang, namun tidak lama kemudian dihentikan karena cuaca buruk. Saat ini, operasi pencarian tersebut telah dilanjutkan dan penyelidikan terkait kecelakaan ini sedang berjalan.

  ✈ Okezone  

Laksanakan Operasi Tumpas di Irian

Bronco Diserbu Cuaca Ganas http://angkasa.co.id/wp-content/uploads/2016/08/DSC_0186-1-696x881.jpgMarsda (Pur) M Koesbeni, alumni AAU 69 'Bogowonto'. (Beny Adrian)

Pada tahun 1977, saat masih berlangsung Operasi Seroja di Timor Timur (sekarang Timor Leste), empat OV-10 Bronco TNI Angkatan Udara (AU) yang mendukung Operasi itu ditugaskan untuk mendukung operasi lainnya di Irian Barat. Keempat Bronco dari Skadron Udara 3 tersebut mengemban tugas untuk melaksanakan Operasi Tumpas di Irian Barat guna melumpuhkan gerakan separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM). Namun diakui oleh mantan penerbang Bronco TNI AU, Marsekal Muda (Pur) M Koesbeni, cuaca di langit Irian menjadi tantangan tersendiri untuk menjalankan misi menumpas OPM.

Selain cuaca, terdapat tantangan lain yang harus dihadapi oleh para penunggang Bronco dalam misi. Para pilot Bronco harus menempuh jarak yang lumayan jauh untuk sampai ke sektor pelaksanaan operasi di Bokondini, Waris, Wamena serta dua daerah lainnya. Saat menjalankan Operasi Tumpas di Irian Barat, Biak dijadikan base untuk sang kuda besi. Karena pada saat itu, di Jayapura pun kondisi tidak kondusif, sehingga kurang memungkinkan untuk dijadikan base di sana bagi keempat Bronco itu.

“Jadi kita betul-betul alert dengan cuaca, kita (lakukan) misi itu betul-betul lihat cuaca, jam berapa sampai jam berapa baiknya, terus harus ada alternate atau yang bisa untuk mendarat bagi yang tidak bisa kembali ke Biak. Yang penting itu ada alternate, jadi kalau misalnya kita di daerah tengah Irian itu, mendarat dulu di Wamena, isi bahan bakar, baru dia kembali. Tapi enggak pernah nginap disana (Wamena), rawan,” terang sang mantan Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Pangkohanudnas) kepada Angkasa, Kamis (25/8).

Koesbeni yang alumni AAU 69 ini mengatakan, untuk mengatasi permasalahan cuaca di langit Irian yang cepat sekali berubah, mudah saja caranya. Patokannya adalah jika mereka tidak dapat melihat tanah, mereka tidak akan melakukan penerbangan. Karena nilai minus dari OV-10 Bronco adalah belum dilengkapi oksigen, sehingga tidak memungkinkan untuk dapat naik lebih dari ketinggian 15.000 kaki. Sementara langit bersih berada di ketinggian lebih dari 30.000 kaki.

“Karena OV (OV-10F Bronco) kan waktu itu belum dilengkapi oksigen, dia hanya terbatas 10.000 kaki, ya maksimum 15.000 kaki lah. Kalau sudah pakai oksigen bisa di atas 15.000 kaki, jadi bisa naik kalau cuacanya jelek, jadi kita harus kenal betul medannya. Jadi misi kebanyakkan pagi, karena perubahannya (cuaca) cepat sekali,” jelas Koesbeni.

https://sejarahperang.files.wordpress.com/2011/05/bronco1.jpgSementara untuk alternatif pendaratan, Koesbeni mengatakan pada saat itu Merauke merupakan tempat yang aman, sehingga pesawat dapat bermalam di sana. Untuk mencapai Merauke, mereka harus melewati Oksibil baru dapat mendarat di sana.

“Dari Biak ke Merauke, dari Merauke kembali ke Biak, nah itu kita harus hati-hati masalah cuaca, karena kita juga pernah terjebak cuaca buruk di situ. Naik tidak bisa karena oksigen tidak ada, tidak bisa untuk instrument pesawatnya,” tutur mantan Asisten Operasi KSAU ini.

Ia menceritakan, Bad weather (cuaca buruk) yang ia dan rekannya hadapi saat itu berupa awan cumulusnimbus. Mereka harus terbang nyimpang untuk menghindarinya, dan mendarat di lokasi memungkinkan terdekat sambil menunggu cuaca normal kembali.

“Kita akhirnya break off (empat pesawat Bronco), rendezvous di pantai. Jadi mengarah ke arah barat, kita turun sampai melihat laut, kalau melihat pantai pasti aman kita. Tinggal ke arah utara hingga ketemu Nabire, nah kita mendarat di Nabire,” ungkap Koesbeni.

Sesampainya keempat Bronco di Nabire, hari sudah sore dan telah masuk waktu maghrib. Walau telah berhasil menghindari ganasnya cuaca dan mendarat, keempat Kuda Liar itu tidak bermalam di Nabire karena harus kembali ke base di Biak. Namun yang menjadi kendala adalah persedian bahan bakar yang tidak cukup untuk kembali ke Biak.

“Untung Merpati (penerbangan perintis yang digunakan saat itu) punya cadangan minyak di situ, kita bisa pinjam dulu. Yang penting diisi cukup untuk ke Biak, karena terbang malam. Di Biak juga cuaca buruk, hujan, jadi kita nunggu dulu, kita holding, baru setelah itu kita turun,” tandasnya.

Selama mengabdi di TNI AU sejak tahun 1976, pesawat antigerilya OV-10F Bronco yang dibeli dari Amerika Serikat, telah menjadi andalan bagi pasukan darat TNI dalam melaksanakan operasi. Kisah-kisah seperti yang dialami Marsda (Pur) Koesbeni ini, hanyalah segelintir dari kenangan yang terus terpatri di benak para penerbang Bronco.

Author: Fery Setiawan

 ♖ Angkasa  

Senin, 29 Agustus 2016

Alasan Indonesia Memilih Sukhoi

Kepada Sekretaris USAF di Mabes TNI AU https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhBzspktQi-pjKHNW0bt5eW3oxljJHBGrQwqTIVBRw05uabi_2zh2vWVHROcuqQSOngC5hvBikhM6xRiBkx9Ysu93Q53fXMBee7tiiOLra4re0Gx3xGG5dzoNjVxYD5oMEmZWMHAdFvhiZR/s1600/tni-au-shukoipr1v4t33r.jpgSukhoi TNI AU (def.pk)

Kasau Marsekal TNI Agus Supriatna menerima kunjungan kehormatan The United States Secretary of The Air Force Mrs Deborah Lee James di ruang tamu Kasau Mabes Cilangkap, Senin (29/8).

Deborah Lee James tiba di Mabesau disambut dengan pasukan jajar kehormatan Paskhas dan Wara.

Pada pertemuan tersebut, Kasau mengatakan bahwa Amerika Serikat dan Indonesia telah lama bersahabat dan persahabatan ini terus bertambah erat hingga hari ini.

Pemerintah AS yang telah menyelenggarakan berbagai program pendidikan dan latihan yang diberikan lepada para personel Angkatan Udara Indonesia, antara lain : Air War College, Air Command and Staff College, Squadron Officer School, Flight Safety Course, dan banyak lagi lainnya.

Atas semuanya itu, Kasau atas nama Pemerintah Republik Indonesia dan segenap personel TNI Angkatan Udara, mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya.

"Termasuk juga kerjasama dalam berbagai latihan, diskusi para ahli di beberapa bidang, kunjungan kehormatan, dan lain-lain. Saya yakin kerjasama ini dapat terus dikembangkan ke area yang lebih luas demi meningkatkan hubungan kerjasama yang saling menguntungkan," kata Kasau.

Kasau juga menjelaskan kepada Mrs Deborah kenapa Indonesia memilih SU-27 dan SU-30, karena ada embargo terhadap alutsista buatan Amerika pada saat itu.

Berkaitan dengan perkembangan beberapa program pembelian alutsista yang sedang berjalan, Kasau berharap bahwa Pemerintah Amerika dapat terus mendukung program regenerasi pesawat tempur F-16 C/D 52ID, program Falcon Star/EMLU, serta program pengadaan rudal AMRAAM.

Harapan Kasau, Pemerintah Amerika Serikat dapat memberi prioritas kepada masalah tersebut sehingga program yang telah dijalankan dapat terlaksana sesuai kontrak yang ada.

Pada pertemuan tersebut, Kasau didampingi Irjenau, Koorsahli Kasau, para Asisten Kasau, Kadispenau, Kadisdikau dan Kadisaeroau.

 ♖ Tribunnews  

Minggu, 28 Agustus 2016

Kembali Membahas SU 35

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5cwGddBgpe6vrr0GHV0vRGw_Ax7bl98_RXcYzKColHyJOBV9rQNql7LYCGiHc9gq6pRkOlWCGzpRadAu2IQSVkkloS7WTneFbFdE4ZNUETCpUGcwa5QNM1ZsuUDGUGm7CG7VROiQN4z5E/s1600/0_de54d_da131340_origphotographers+of+Russia+-+Marina.jpgSu 35 Rusia (Marina)

Kembali berita pembelian pesawat tempur Su 35 dibahas bersama Tim dari Moskow.

Menurut Dubes Indonesia untuk Rusia, Rincian kontrak pembelian sedang dibahas dan bilamana lancar, penandatanganan kontrak akan dilakukan akhir tahun ini.

Indonesia tetap berminat dengan pesawat tempur generasi 4++ Sukhoi 35. Untuk menggantikan pesawat tempur F5 Tiger yang sudah usang.

Rencananya Indonesia akan membeli 12 unit pesawat Sukhoi 35. [AEX.ru]

 ♖ Garuda Militer  

Sabtu, 27 Agustus 2016

September Ceria

Bulan Alutsista TNI https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj_cKZCPPZF0JFLZx5mXRa7ObWpLw8mYxvufMkWPOWgAT2U8nGtpWyeA2NlvuI8hygOYubaNQbwtpZy2tjNy92h3nPoMEEByf8WqSwbwOJ6Ef0J3KeIgzS5kAT_mlOkSP9qZQdmV7mt952q/s1600/leopard2.jpgMBT Leopard 2RI ☆

M
emasuki bulan September, TNI dipastikan bertambah persenjataannya. Minggu lalu sudah diberitakan Marinir akan mendapat mainan amfibi pengangkut pasukan baru dari Ukraina, BTR 4M. Kapal pengangkut alutsista ini dipercaya sudah menuju perairan Indonesia.

Marinir rencananya akan membeli sebanyak 50 unit ranpur BTR 4M, namun dari gambar yang telah beredar, hanya 4 unit ranfib (kendaraan amfibi) yang siap mendarat di Nusantara. Tidak jelas apakah akan ada pengadaan tambahan atau digantikan dengan ranfib jenis yang lain.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhodLJs4x-OPeaULu96iULuOpxeqpy2X61h9E16GLJ4c9tLwvgkFct_SQL9LColt3oSN9gdb5kKxFGdDGfM88j4o_tYp2FQ7xRTYorBzFYldm9xDrcX1YQkkfS44ZhMaKbZGbHtRkzsDIe2/s1600/ptdi2.jpgNampak Pesawat CN 235 MPA produksi PT DI bersama pesawat pesanan Filipina dan Thailand. [def.pk]

Selain itu kemaren tepatnya, beredar kabar dari pengamat militer di forum militer menyatakan akan ada pengirim tambahan alutsista untuk TNI AD. Berupa 40 unit M113 A1, ARV (Armoured Recovery Vehicle) 3 RI 2 unit, AVLB (Armoured Vehicle Launched Bridge) Beaver 3 unit, MBT (Main Battle Tank) Leopard RI sebanyak 16 unit. Dan kapal pengangkutnya diyakini sudah berlayar menuju Indonesia, yang diperkirakan akan sampai pada tanggal 29 Agustus ini.

Bersama PT Dirgantara Indonesia, perusahaan BUMNIS sudah menyelesaikan produksi pesawat dan helikopter untuk TNI. Untuk TNI AU akan mendapat pesawat 1 unit CN235 MPA dan sejumlah helikopter Nbell 412 EP dipersiapkan untuk TNI AD.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXlq01n7r4fkRgzGughkwl5Qhqs5qXQ9WPXIFYDzvEEUdL-i9nk9lvMfVDbaoArKw9VWnyzQk17VkpL854w-qH5u-En4PyTVpN6YpWQn7CtapR63zTKy6uZUf1tO48Gh_hY8tCy9wuNX9B/s1600/heli-vvip-tni.jpgHelikopter VVIP [pr1v4t33r@def.pk]

Menariknya beredar di forum militer helikopter VVIP untuk Presiden dengan warna dasar khas KTP RI seperti pesawat kepresidenan. Diberitakan helikopter ini sebentar lagi akan menjadi kuda terbang baru Kreshna, atau umum dikenal RI1.

Dari PT Pindad dipastikan telah memproduksi Anoa dengan variasinya sebanyak 300 unit dan puluhan unit rantis Komodo.

PT PAL seolah tak mau ketinggalan akan memamerkan kapal terbarunya PKR 10514, KRI Martadinata 331, yang sekarang dalam penyelesaian ujicoba laut di timur pulau Jawa.

Bila semua telah resmi diterima, dipastikan sebagian alutsista diatas akan muncul pada parade HUT TNI bulan Oktober mendatang. Seperti tahun lalu, memasuki bulan September, alutsista baru berdatangan memenuhi gudang alutsista TNI dan merupakan bulan kegembiraan untuk semua jajaran penjaga kedaulatan Indonesia.

  ★ Garuda Militer  

TNI AU Butuh Tambahan Pesawat Tempur

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjsqPGsh_gKg6jJ91CSpSrVU3dW49eMgVKgRhuMunJmZyEBW52Ml6tD8TNByv1G2M6Sab-1wQxq2F65glXq0sDF3LBj-m120bMOLqURQDTsVBpDNfbcFAlEpHMVbsLtAitSymQP1C5J7rV-/s1600/b1a5f2a6-402c-4940-8654-c7786cfdd9cf_169.jpgTNI Angkatan Udara membutuhkan tambahan pesawat tempur dan helikopter untuk meningkatkan pengamanan di wilayah perbatasan nusantara. Saat ini, beberapa pesawat tempur juga tengah dalam proses pengadaan.

"Idealnya, kami butuh tambahan 1 skadron (14 unit) pesawat tempur di wilayah perbatasan. Namun, ini disesuaikan dengan ketersediaan anggaran di Kementerian Keuangan," kata Kadispen TNI AU Jemi Trisonjaya seusai menghadiri serah terima jabatan Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI AU di Lembang, Jumat, 26 Agustus 2016.

Jemi menuturkan, pesawat tempur dan helikopter angkut yang siap beroperasi dibutuhkan di wilayah perbatasan nusantara, seperti Sumatra Utara, Kalimantan, dan Papua. Sebab, wilayah perbatasan dengan negara lain tersebut membutuhkan tingkat pengamanan tinggi.

Meski demikian, pihaknya tetap memaklumi keterbatasan anggaran pemerintah pusat. Dengan demikian, penggunaan pesawat tempur yang ada saat ini akan terus dioptimalkan.

Sementara untuk sejumlah pesawat tempur TNI AU, pihaknya tetap melakukan pemeliharaan sesuai dengan prosedur. Untuk itu, dia membantah jika pesawat tempur yang jatuh terjadi akibat kelalaian dalam pemeliharaan.

"Pesawat jatuh itu bisa disebabkan banyak hal, bisa faktor alam ataupun lainnya. Seperti mobil juga misalnya. Walaupun pemeliharaan sudah baik, bisa saja terjadi kecelakaan akibat faktor lain," ujarnya.***

  ★ Pikiran Rakyat  

Jumat, 26 Agustus 2016

Jepang Tawarkan Pesawat Amfibi Kepada Indonesia

Pesawat Amfibi Jepang ★

Menteri Koordinasi Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto mengadakan pertemuan dengan Dubes Jepang untuk Indonesia, Yasuaki Tanizaki. Dalam pertemuan tersebut, Yasuaki menawarkan pesawat amfibi untuk Indonesia.

Tawaran dari Dubes Jepang tersebut disambut baik oleh Wiranto. Apalagi Indonesia yang merupakan negara maritim, yang memiliki banyak pulau dan 2/3 wilayah Indonesia adalah laut.

"Tadi yang sangat menonjol adalah Jepang menawarkan pesawat amfibi. Ini memang cukup menarik, karena kita wilayah maritim, di mana pulau-pulau cukup banyak dan kita 2/3 laut dan pesawat amfibi ini multigunakan," kata Wiranto di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (26/8/2016).

Pesawat amfibi yang ditawarkan oleh Jepang juga sangat berguna bagi Indonesia saat ini. Karena Indonesia sedang menghadapi kebakaran hutan yang terus terjadi. Dengan adanya pesawat tersebut, diharapkan kebakaran hutan bisa dipadamkan secara cepat.

"Apalagi saat ini, tatkala kita menghadapi kebakaran hutan yang mengancam beberapa titik-titik kritis. Saya kira pesawat amfibi memang sangat bagus dimodifikasi jadi bagian dari upaya memadamkan api," ujar Wiranto.

"Dia (pesawat amfibi) mendarat di air, menyedot air, langsung naik semprotkan dan selesai," lanjutnya.

Selain itu, kedua negara juga mengharapkan adanya hubungan kerja sama yang terus meningkat di antara kedua negara. Salah satunya adalah kerja sama di bidang pertahanan.

"Kita sudah tanda tangan kesepakatan bersama terutama untuk membangun industri pertahanan, yang saya kira Jepang sangat maju juga," tutup Wiranto. (rvk/rvk)

  ★ detik  

F-16C/D Block 52ID TNI AU segera ditempatkan lagi di Pekanbaru

Formasi terbang lintas satu flight F-16 Fighting Falcon Block52ID dan Sukhoi Su-27/30MKI di udara kawasan Istana Merdeka pada Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan di Jakarta, Rabu (17/8/2016). (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma) ★

Panglima Komando Operasi I TNI AU, Marsekal Muda TNI Yuyu Sutisna, mengatakan, pesawat tempur F16C/D Fighting Falcon Block 52ID akan segera memperkuat lagi Pangkalan Udara Utama TNI AU Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Provinsi Riau.

Selama ini sudah ada satu skuadron F-16 Fighting Falcon Block52ID di sana, yaitu Skuadron Udara 16 TNI AU. Tidak ada angka pasti jumlah pesawat terbang dalam satu skuadron, namun biasanya antara 10 hingga 16 unit, walau ada yang lebih banyak lagi.

"Di sini nanti rencananya akan diganti dengan F16C/D baru dari Amerika untuk mengganti F16A/B," kata Sutisna, di Pekanbaru, Jumat.

Indonesia membeli 24 unit F-16C/D Block 25 bekas pakai Angkatan Udara Garda Nasional Amerika Serikat. Ke-24 pesawat tempur yang dibeli seharga 700 juta dolar Amerika Serikat itu diperbarui struktur dan rangkanya, perangkat avionika dan sistem pendukung persenjataannya sehingga diharapkan setara dengan F-16 Block 52, sehingga diimbuhi huruf ID di belakang kata Block52 itu.

Peningkatan itu tidak gratis, karena Indonesia harus mengerahkan dana cukup besar lagi agar F-16 eks Angkatan Udara Garda Nasional Amerika Serikat itu menjadi "setara" dengan Block 52 itu.

Sesungguhnya, nama seri Block 52ID itu tidak pernah digunakan pabrikan pesawat terbang tempur itu secara resmi. Satu F-16 Fighting Falcon Block 52ID ini sudah hancur total dalam kecelakaan di landas pacu Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, tahun lalu.

Dia mengatakan, saat ini pesawat F16C/D Fighting Falcon Block 52ID tersebut masih berada di Pangkalan Udara Utama TNI AU Iswahyudi, Madiun. Di sana, pesawat itu dalam proses pemasangan rem udara.

"Nanti setelah selesai akan ditukar. Tipe A/B dibawa ke Madiun, yang baru segera di terbangkan ke sini," lanjutnya.

Namun begitu, dia mengatakan untuk merealisasikan hal tersebut membutuhkan waktu karena masih banyak yang perlu diselesaikan. "Tapi diupayakan secepatnya," kata Sutisna.

Komandan Pangkalan Udara Utama TNI AU Roesmin Noerjadin, Marsekal Pertama TNI Henri Alfiandi, menyambut baik rencana kedatangan F16C/D Fighting Falcon Block 52ID itu.

Terdapat dua skuadron pesawat tempur TNI AU di sana, yaitu Skuadron Udara 12 yang bermaterikan Hawk 100/200 buatan British Aerospace dan Skuadron Udara 16 yang bermaterikan F-16 Fighting Falcon Block52ID.

Selain Skuadron Udara 16, masih ada "saudara tua" mereka yang juga bermaterikan F-16A/B, yaitu Skuadron Udara 3 yang berpangkalan di Pangkalan Udara Utama TNI AU Iswahyudi. Ke-12 unit F-16A/B di Skuadron Udara 3 itu dibeli baru sama sekali sehingga Indonesia termasuk negara pertama ASEAN operator pesawat tempur itu, setelah Singapura dan Thailand.

  ★ Antara  

Rabu, 24 Agustus 2016

[Dunia] FA-50 Filipina di Grounded

FA-50PH Golden Eagle (rodd929) ☆

Satu dari dua jet tempur buatan Korea Selatan FA-50 “Golden Eagle” yang merupakan pesawat tempur jet Angkatan Udara Filipina telah dihentikan operasionalnya setelah mesinnya rusak dan benar-benar hancur karena “serangan burung”.

“Memang benar, salah satu FA-50 kami mendapat serangan burung (burung Clark) dan mesinnya benar-benar hancur. Saya hanya tidak tahu apakah itu hanya satu atau kedua mesin,” kata seorang mantan perwira dari PAF yang meminta untuk tidak diidentifikasi namanya kepada The Manila Standard.

The Manila Standard mencari informasi dari juru bicara PAF, Kolonel Araus Robert Musico tetapi gagal mendapatkan penjelasan dan hanya mengetahui bahwa insiden itu tidak dilaporkan.

Menurut sumber, serangan burung terjadi sekitar bulan Maret saat jet tempur FA-50 berada di runway Clark Airfield Angkatan Udara Filipina di Pampanga.

“Sampai sekarang, hanya satu dari FA-50 yang mampu terbang karena mesin jet yang rusak belum diganti,” kata sumber itu.

Pada bulan November 2015, dua unit batch pertama dari 12 FA-50 yang dipesan dari Korea Aerospace Inc. dikirim ke PAF. Dua lagi akan dikirim sebelum akhir 2016 dan sisanya sampai 2017.

Jet supersonik tersebut belum dipersenjatai dengan rudal yang dibeli oleh pemerintah dengan jumlah total 18.9 miliar peso.

Selama kampanye pemilu, Presiden Rodrigo Duterte telah mengkritik pengadaan pesawat tempur jet ini sebagai “buang-buang uang”.

Saat ini, Duterte telah memprioritaskan pengadaan kapal cepat angkatan laut dan helikopter combat untuk pengamanan di Mindanao, di mana penculikan menjadi masalah serius.

Tapi Duterte telah berjanji untuk melanjutkan upaya modernisasi yang dimulai oleh pemerintahan sebelumnya. [The Manila Standard]
 

  ☆ Garuda Militer  

Pesawat Penerjun Pertama Indonesia

Dalam Misi di Kalimantan Penampakan Pesawat Penerjun Pertama Indonesia dalam Misi di KalimantanSebuah monumen pesawat berdiri megah di tengah Kota Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Monumen tersebut adalah Monumen Operasi Penerjunan Pertama pada tanggal 17 Oktober 1947.

Sebuah monumen pesawat berdiri megah di tengah Kota Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Monumen tersebut adalah Monumen Operasi Penerjunan Pertama pada tanggal 17 Oktober 1947.

Pesawat tersebut adalah jenis pesawat C-47 Dakota RI-002, pesawat asli yang digunakan 13 orang penerjun pertama saat melakukan operasi di Desa Sambi, Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin, Kalimantan Tengah.

Pesawat bersejarah itu dijadikan sebagai monumen yang diresmikan pada tanggal 19 Desember 1998, oleh Kepala Staf TNI AU Marsekal Madya TNI Hanafie Asnan.

Dalam misi bersejarahnya pada tanggal 17 Oktober 1947, pesawat C-47 Dakota RI-002 dipiloti oleh Bob Freeberg berkebangsaan Amerika, dan kopilot Opsir Udara III Suhodo, serta jump master Opsir Muda Udara III Amir Hamzah.

Pesawat menerjunkan 13 prajurit yang belum pernah melakukan penerjunan sebelumnya kecuali teori dan ground training.

Peristiwa heroik ini merupakan operasi penerjunan pertama sekaligus operasi lintas udara pertama yang dilakukan oleh TNI serta menandai lahirnya Satuan Tempur Darat Matra Udara yang dimiliki TNI AU.

"Monumen ini sebagai simbol sejarah penerjunan pertama sekaligus labirnya Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) yang sekarang dikenal sebagai Korps Pasukan Khas Angkatan Udara (Kopaskhasau)," kata Komandan Wing II Paskhas Kol Pas Ari Ismanto.

  ✈ Tribunnews  

Ban Sukhoi Pecah Saat Mendarat di Lanud Hasanuddin

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJrWz_QgqcJ0nwmOPDZa8kXqzu-vHwVlFb-EB5QFoFlmBFLl0det6OFs7tbi7IjnZseovfJeMoTo5WA8r1PekoutTYa_nI4xd0Yxu2vlqXzek2AwTDbo0cUl4XLoj_XiQTHoQXxnis0kMB/s1600/21802521649_560744914c_Rezza+Habibie.jpgIlustrasi Flanker Indonesia [rezza habibie] 

Pesawat tempur Sukhoi yang mengalami kecelakaan kecil di Landasan Udara (Lanud) Hasanuddin, Makassar, mengalami pecah ban saat melakukan pendaratan, Rabu (24/8/2016).

Panglima Koopsau II, Makassar, Marsekal Muda TNI Dodi Trisunu, mengatakan, pesawat Sukhoi tersebut tidak mengalami kecelakaan. Pesawat tersebut hanya mengalami ban pecah di Landasan usai melakukan pendaratan.

"Jadi bukan kecelakaan ya. Pesawat itu hanya mengalami ban kempes. Tapi saya tidak tahu persis ban bagian mananya yang kempes. Tapi sudah langsung diganti dan kembali terbang," katanya.

Dodi pun mengatakan, ban kempes pesawat Sukhoi diketahui oleh pilot saat melakukan pendaratan setelah latihan rutin.

"Awalnya pesawat itu terbang latihan rutin dengan mulus. Tapi setelah mendarat, pilot merasa ban pesawat kempes. Tidak ada kerusakan lain pada pesawat Sukhoi itu. Pergantian ban di landasan pun dilakukan cepat, hanya sekitar 11 menit saja," tambahnya.

Sebelumnya diberitakan, salah satu dari sekian pesawat tempur Sukhoi yang disiagakan di Makassar mengalami kecelakaan di Landasan Udara (Lanud) Hasanuddin, Rabu (24/8/2016). Dalam kecelakaan itu, dikabarkan tidak ada korban jiwa maupun luka dalam insiden tersebut.

  ✈ Kompas  

Pesawat Sukhoi Mengalami Kecelakaan

Di Lanud Hasanuddin Makassar https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1kEEkP3h6Q2fh5mS9Yjv7N82Kr_3Og4TJEsHpEwFVDUM-serXRKJvEIYyw-P5cdYxZ29R2oraxt4XCg8AOKecXhNsZfrnrcfVroj_hO4vVdcaQP78C63tnMS6f_eIc83WhSJa-hXAWI01/s1600/FB_IMG_1438124431555.jpgIlustrasi Flanker Indonesia [def.pk] 

Salah satu pesawat tempur Sukhoi yang disiagakan di Makassar mengalami kecelakaan di Landasan Udara (Lanud) Hasanuddin, Rabu (24/8/2016).

Kecelakaan pesawat tempur yang menjaga keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) itu dibenarkan oleh Kapentak Koopsau II, Makassar, Mayor Agus Salim ketika dikonfirmasi Kompas.com, Rabu.

Menurut Agus, kecelakaan pesawat Sukhoi tidak terlalu parah, sehingga tidak ada korban jiwa ataupun luka.

"Saya sementara berada di Anjungan Pantai Losari. Tapi saya sudah dapat kabar bahwa pesawat Sukhoi mengalami kecelakaan. Terkait secara detilnya, saya belum dapat informasi dari markas," katanya.

Agus mengungkapkan, kerusakan pada pesawat buatan Rusia itu hanya sedikit. Hanya ada beberapa masalah pada bagian-bagian tertentu pesawat. Namun ia tidak menyebutkan bagian-bagian pesawat dimaksud.

"Jelas itu pesawat sementara ditangani oleh tim di markas. Hanya kerusakan kecil saja dan tidak besar," tambahnya.

  ✈ Kompas