Comments

Side Ads

Blogroll

Featured 1

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 2

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 3

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 4

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 5

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Agustus 2016

Laksanakan Operasi Tumpas di Irian

Bronco Diserbu Cuaca Ganas http://angkasa.co.id/wp-content/uploads/2016/08/DSC_0186-1-696x881.jpgMarsda (Pur) M Koesbeni, alumni AAU 69 'Bogowonto'. (Beny Adrian)

Pada tahun 1977, saat masih berlangsung Operasi Seroja di Timor Timur (sekarang Timor Leste), empat OV-10 Bronco TNI Angkatan Udara (AU) yang mendukung Operasi itu ditugaskan untuk mendukung operasi lainnya di Irian Barat. Keempat Bronco dari Skadron Udara 3 tersebut mengemban tugas untuk melaksanakan Operasi Tumpas di Irian Barat guna melumpuhkan gerakan separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM). Namun diakui oleh mantan penerbang Bronco TNI AU, Marsekal Muda (Pur) M Koesbeni, cuaca di langit Irian menjadi tantangan tersendiri untuk menjalankan misi menumpas OPM.

Selain cuaca, terdapat tantangan lain yang harus dihadapi oleh para penunggang Bronco dalam misi. Para pilot Bronco harus menempuh jarak yang lumayan jauh untuk sampai ke sektor pelaksanaan operasi di Bokondini, Waris, Wamena serta dua daerah lainnya. Saat menjalankan Operasi Tumpas di Irian Barat, Biak dijadikan base untuk sang kuda besi. Karena pada saat itu, di Jayapura pun kondisi tidak kondusif, sehingga kurang memungkinkan untuk dijadikan base di sana bagi keempat Bronco itu.

“Jadi kita betul-betul alert dengan cuaca, kita (lakukan) misi itu betul-betul lihat cuaca, jam berapa sampai jam berapa baiknya, terus harus ada alternate atau yang bisa untuk mendarat bagi yang tidak bisa kembali ke Biak. Yang penting itu ada alternate, jadi kalau misalnya kita di daerah tengah Irian itu, mendarat dulu di Wamena, isi bahan bakar, baru dia kembali. Tapi enggak pernah nginap disana (Wamena), rawan,” terang sang mantan Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Pangkohanudnas) kepada Angkasa, Kamis (25/8).

Koesbeni yang alumni AAU 69 ini mengatakan, untuk mengatasi permasalahan cuaca di langit Irian yang cepat sekali berubah, mudah saja caranya. Patokannya adalah jika mereka tidak dapat melihat tanah, mereka tidak akan melakukan penerbangan. Karena nilai minus dari OV-10 Bronco adalah belum dilengkapi oksigen, sehingga tidak memungkinkan untuk dapat naik lebih dari ketinggian 15.000 kaki. Sementara langit bersih berada di ketinggian lebih dari 30.000 kaki.

“Karena OV (OV-10F Bronco) kan waktu itu belum dilengkapi oksigen, dia hanya terbatas 10.000 kaki, ya maksimum 15.000 kaki lah. Kalau sudah pakai oksigen bisa di atas 15.000 kaki, jadi bisa naik kalau cuacanya jelek, jadi kita harus kenal betul medannya. Jadi misi kebanyakkan pagi, karena perubahannya (cuaca) cepat sekali,” jelas Koesbeni.

https://sejarahperang.files.wordpress.com/2011/05/bronco1.jpgSementara untuk alternatif pendaratan, Koesbeni mengatakan pada saat itu Merauke merupakan tempat yang aman, sehingga pesawat dapat bermalam di sana. Untuk mencapai Merauke, mereka harus melewati Oksibil baru dapat mendarat di sana.

“Dari Biak ke Merauke, dari Merauke kembali ke Biak, nah itu kita harus hati-hati masalah cuaca, karena kita juga pernah terjebak cuaca buruk di situ. Naik tidak bisa karena oksigen tidak ada, tidak bisa untuk instrument pesawatnya,” tutur mantan Asisten Operasi KSAU ini.

Ia menceritakan, Bad weather (cuaca buruk) yang ia dan rekannya hadapi saat itu berupa awan cumulusnimbus. Mereka harus terbang nyimpang untuk menghindarinya, dan mendarat di lokasi memungkinkan terdekat sambil menunggu cuaca normal kembali.

“Kita akhirnya break off (empat pesawat Bronco), rendezvous di pantai. Jadi mengarah ke arah barat, kita turun sampai melihat laut, kalau melihat pantai pasti aman kita. Tinggal ke arah utara hingga ketemu Nabire, nah kita mendarat di Nabire,” ungkap Koesbeni.

Sesampainya keempat Bronco di Nabire, hari sudah sore dan telah masuk waktu maghrib. Walau telah berhasil menghindari ganasnya cuaca dan mendarat, keempat Kuda Liar itu tidak bermalam di Nabire karena harus kembali ke base di Biak. Namun yang menjadi kendala adalah persedian bahan bakar yang tidak cukup untuk kembali ke Biak.

“Untung Merpati (penerbangan perintis yang digunakan saat itu) punya cadangan minyak di situ, kita bisa pinjam dulu. Yang penting diisi cukup untuk ke Biak, karena terbang malam. Di Biak juga cuaca buruk, hujan, jadi kita nunggu dulu, kita holding, baru setelah itu kita turun,” tandasnya.

Selama mengabdi di TNI AU sejak tahun 1976, pesawat antigerilya OV-10F Bronco yang dibeli dari Amerika Serikat, telah menjadi andalan bagi pasukan darat TNI dalam melaksanakan operasi. Kisah-kisah seperti yang dialami Marsda (Pur) Koesbeni ini, hanyalah segelintir dari kenangan yang terus terpatri di benak para penerbang Bronco.

Author: Fery Setiawan

 ♖ Angkasa  

Rabu, 17 Agustus 2016

☆ Kisah tentara Belanda yang membelot dan perangi bangsanya sendiri

Johannes Cornelis Princen. ©2016 google ☆

Hari ini, Indonesia kembali merayakan kemerdekaannya yang ke-71 tahun. Seperti biasa, detik-detik proklamasi sekaligus upacara penaikan Bendera Pusaka akan dilaksanakan di Istana Kepresidenan.

Butuh perjuangan yang panjang sebelum Indonesia menjadi negara yang berdaulat, dan berhak menentukan nasibnya sendiri. Apalagi, Belanda tak mau begitu saja melepaskan negara jajahannya lepas dengan mudah.

Ada kisah menarik ketika seorang tentara Belanda memutuskan menyeberang dan bertempur bersama musuhnya. Tanpa penuh ragu, dia juga tak segan membunuh teman sebangsanya.

Pria itu adalah Johannes Cornelis Princen atau dikenal Poncke Princen. Sejak awal, dia memang sangat antiperang, dan menentang penjajahan.

Sebelum diterjunkan ke Indonesia, Princen penah bolak-balik masuk ke dalam penjara. Pertama, dia dan kelompoknya menjadi tawanan Nazi Jerman, dan sempat bebas. Namun, dia kembali tertangkap saat akan menyeberang ke Inggris untuk bergabung dengan pasukan pembebasan.

Setelah Jerman berhasil dikalahkan Sekutu. Belanda berupaya membentuk kembali pasukan pertahanan. Princen tak menolak ketika namanya tercantum dalam wajib militer, namun dia mulai memberontak ketika akan dikirimkan ke tanah jajahan.

Dia pun membuktikan penolakannya dengan kabur dari kamp, dan lari ke Prancis. Namun, pikirannya berubah ketika bertemu seorang fotografer keturunan Yahudi. Alhasil, dia kembali ke satuannya.

Namun, statusnya sebagai desertir tak membuatnya mudah menjalani tugasnya, apalagi Princen menjalankannya dengan terpaksa. Alhasil, seorang perwira administrasi membuang surat penugasannya ke laut, alhasil dia sempat tertahan di Pelabuhan Tanjung Priok.

Tak hanya itu, dia langsung dijebloskan ke Penjara Tjisaroea selama empat bulan dengan tuduhan desersi. Setelah keluar, dia kembali aktif dan terlibat dalam Aksi Polisionil Pertama. Di sini ia merasa kesal melihat kelakuan rekan-rekannya terhadap penduduk lokal.

"Ketika seorang remaja berada di bawah kekuasan Nazi dan dua tahun di penjara Jerman telah mengubah dan meyakinkan saya untuk melawan kekejaman. Saya berpikir bangsa Indonesia benar. Saya pikir mereka juga berhak menentukan nasibnya sendiri. Saya muak dengan Belanda yang membunuhi orang-orang yang saya kagumi," ungkapnya saat diwawancara Harian Herald Tribune, yang dimuat pada 12 Maret 1998 lalu.

Princen memutuskan untuk meninggalkan pasukannya, dan keputusan itu dia ambil pada 25 September 1948 saat berpatroli di kawasan Sukabumi. Dengan berjalan kaki, dia nekat menyeberangi garis demakarsi untuk masuk ke wilayah Republik menuju Semarang untuk dapat ke Yogyakarta. Setibanya di sana, dia malah ditangkap dan dijebloskan ke penjara.

Desember 1948, Belanda kembali melancarkan Agresi Militer Kedua. Tujuan utamanya adalah merebut Yogyakarta, menangkap Soekarno dan pemimpin nasionalis lainnya. TNI memutuskan untuk melepaskan Princen, di sinilah dia mengungkapkan keinginannya untuk bergabung dengan pasukan Republik.

Saat dibebaskan, Pricen diberikan pilihan oleh Komandan Batalyon Kala Hitam dari Divisi Siliwangi Kolonel Kemal Idris untuk kembali ke satuannya. Namun, pilihan itu ditolak Princen.

"Aku telah katakan 'A', jadinya sekarang aku katakan juga 'B' dan jika perlu aku katakan sampai semua aksara, jadinya aku ikut berangkat!" ujar Princen seperti yang dikatakannya kepada Joyce van Fenema.

Sejak itu, Princen bergabung bersama Batalyon Kala Hitam di bawah kepemimpinan Kemal Idris. Dia juga merasakan pahit getirnya melakukan longmarch sejauh 900 km ke Jawa Barat. Selama itu pula dia terlibat dalam pertempuran gerilya, bahkan tak segan menembaki teman sebangsanya sendiri.

Pengakuan itu pernah diungkapnya dalam sebuah wawancara dengan seorang wartawan saat ditanya, "Apakah anda benar-benar pernah menembak tentara Belanda? Apakah anda membunuh seorang di antara mereka?" Dengan singkat, Princen menjawab, "ya, saya melakukannya."

Setelah tiba di Jawa Barat, Pricen dipercaya menjadi seorang perwira dan bertugas di kantong gerilya, atau werhkreise Purwakarta. Bersama pejuang, dia berkali-kali melaksanakan operasi dan merepotkan balatentara Belanda.

Salah satunya ketika dia dan pasukannya menipu satu peleton Poh An Tui, pasukan Tionghoa yang dibentuk Belanda, tanpa menembakkan satu butir pun peluru. Dengan penampilan ala pasukan Belanda, dia berpura-pura menjadi seorang perwira dan melucuti pasukan itu bersama anak buahnya.

Tak jarang, dia dan pasukannya terlibat kontak senjata. Salah satunya ketika menghadap rombongan polisi Belanda di Stasiun Gandasoli, dekat terowongan Lampegan di Kabupaten Cianjur. Begitu kereta api berhenti, salah seorang anak buahnya muncul dari balik rimbunan pohon, dengan senjata terkokang menghardik komandan jaga.

Princen kemudian muncul dan memerintahkan anak buahnya untuk mengosongkan kereta api dari penumpang sipil serta menjaga setiap pintu dengan senjata siap tembak. Di tengah ketegangan, ternyata ada seorang polisi yang nekat meloncat melalui jendela. Alhasil, polisi itu ditembaki membabi buta hingga tewas.

Kejadian itu membuat kereta kembali bergerak, pertempuran pun berlangsung sengit hingga kedua belah pihak saling melempar granat. "Hasilnya satu polisi Belanda mati, dan satu senjata berhasil kami rampas," ujar Princen.

Tindakannya itu membuat Belanda menawarkan hadiah bagi siapapun yang memberikan informasi atau membunuh Princen. Bahkan menyiapkan membentuk unit khusus untuk memburunya. Unit ini diambil dari Korps Speciale Troepen (KST) di bawah kepemimpinan Letnan Henk Ulrici.

Misi ini dilakukan sebelum kedua belah pihak melaksanakan gencatan senjata. Untuk menutupi pergerakannya, seluruh anggota pasukan mengenakan ikat kepala merah dan seragam tentara Republik. Namun tetap saja tercium, dan membuat Pricen harus lebih waspada.

Beberapa usaha untuk membuyarkan konsentrasi musuh gagal. Akhirnya, jejak Princen tercium di kawasan Perkebunan Gunung Rosa, Cianjur. Pricen yang tengah tertidur dikejutkan bunyi tembakan, namun dia sempat menganggap bunyi itu ulah anak buahnya. Anggapan itu berubah ketika desing peluru dan lemparan granat mulai diarahkan ke pondok tempatnya beristirahat.

Dengan cepat, dia menghindari ledakan dan merayap ke lokasi yang aman. Sembari bergerak mundur, dia membuat taktik untuk berputar bukit dan menyerbu musuh-musuhnya dari belakang. Belum sempat terlaksana, sebuah teriakan berbahasa Belanda memerintahkan pasukan londo itu berhenti menembak dan bergerak mundur.

Pertempuran singkat itu telah menewaskan lima anak buahnya dan istrinya, Odah. Meski begitu, dia tentara KST berhasil ditembak mati.

Setelah pengakuan kedaulatan, Pengadilan Belanda menjatuhkan hukuman mati terhadap Princen karena dianggap membunuh tentaranya sendiri. Sejumlah desakan ekstradisi yang dilakukan terhadapnya ditampik begitu saja oleh Soekarno. Oleh Bung Karno pula, dia diberi Bintang Gerilya, sebuah penghargaan bagi mantan tentara Belanda yang ikut berperang bersama Indonesia.
 

  ☠ Merdeka